KONTAN.CO.ID - Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan pada Rabu (4/3/2026), sementara investor semakin bersikap bearish terhadap euro, seiring konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran kenaikan harga energi yang berkelanjutan dan menekan pasar saham. Euro tercatat stabil di level $1,1612, meski sebelumnya menyentuh posisi terlemah sejak akhir November. Pelemahan ini terjadi setelah data inflasi zona euro pada Februari menunjukkan percepatan lebih tinggi dari perkiraan sebelum konflik Iran meletus.
Baca Juga: Trump Ancam Embargo Perdagangan dengan Spanyol, Ini Alasannya “Dampak perang Iran terhadap pasangan EUR/USD pada dasarnya terkait satu hal: energi,” kata George Saravelos, Kepala Riset FX Global di Deutsche Bank. Pasar keuangan melanjutkan aksi jual pada Rabu, di tengah kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat serangan Israel dan AS terhadap berbagai target di Iran, yang mendorong investor beralih ke aset likuid. Pasar Opsi Tunjukkan Euro Berisiko Lebih Lanjut Data pasar opsi menunjukkan para pedagang berada pada posisi paling bearish terhadap euro dalam setahun terakhir, berbalik dari posisi bullish enam minggu lalu. “Kami masih berada dalam skenario di mana penurunan dolar kemungkinan bersifat sementara dan segera dibeli kembali, karena banyak mata uang lain sudah tercermin dengan sentimen negatif, terutama yang sensitif terhadap harga energi,” ujar Jeremy Stretch, Kepala Strategi FX G10 CIBC Capital Markets. “Di Eropa, fokusnya adalah harga gas alam. Jika muncul masalah pasokan maupun harga, itu akan menjadi lebih bermasalah bagi zona euro,” tambahnya.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei, Calon Pengganti Pemimpin Iran, Dilaporkan Selamat dari Serangan Harga opsi untuk menjual euro terhadap dolar dalam tiga bulan ke depan menunjukkan premi tertinggi sejak Maret tahun lalu, menandakan keyakinan trader bahwa euro masih berpotensi melemah. Menurut Saravelos, untuk setiap kenaikan 10% gabungan pada harga Brent dan gas Eropa, euro turun sekitar 0,8%. Dengan harga Brent dan gas alam mencapai US$100 per barel, euro/dolar diperkirakan bisa turun ke sekitar US$1,13. Harga minyak dan gas global melonjak akibat serangan ke Iran yang mengganggu ekspor energi dari Timur Tengah. Serangan balasan Iran terhadap kapal dan fasilitas energi menutup jalur pelayaran di Teluk, memaksa produksi dari Qatar hingga Irak terhenti. Harga kontrak berjangka minyak Brent naik hampir 16% sejak Jumat lalu ke sekitar $84 per barel, tertinggi sejak Juli 2024, sementara harga gas Eropa naik hampir 85% sejak akhir pekan lalu.
Baca Juga: Nuklir dan Angin Darat Jadi Opsi Termurah Penuhi Lonjakan Listrik Swedia Analis ING menulis, “Posisi ECB yang ‘aman’ kini terancam, dan kami meragukan masalah ini akan segera terselesaikan. Kemungkinan kenaikan suku bunga ECB menjadi risiko serius bagi carry trade dan bisa memperlebar spread obligasi pemerintah zona euro secara signifikan.”
Di pasar uang, trader menempatkan peluang satu banding tiga bagi European Central Bank untuk menaikkan suku bunga tahun ini, dibandingkan peluang pemotongan sekitar 40% hanya seminggu lalu. Sementara itu, pound Inggris turun 0,3% ke $1,3323. Sterling terdampak kenaikan harga energi yang berkepanjangan, mengingat inflasi Inggris masih 3%, jauh di atas target 2% Bank of England. Indeks dolar AS, yang melacak performa mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat datar di 99,05, meski sebelumnya menyentuh level terkuat sejak 28 November. Terhadap yen Jepang, dolar turun 0,26% menjadi 157,35 yen, dan terhadap yuan offshore turun 0,1% ke 6,913 yuan setelah data PMI Februari menunjukkan kontraksi aktivitas resmi, meski indeks swasta melampaui estimasi.