Dolar Taiwan dan Won Korea Menguat Kamis (13/8), Rupiah Melemah



KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia bergerak terbatas terhadap dolar AS pada Kamis (13/8/2026).

Dolar Taiwan dan won Korea Selatan mencatat penguatan, sementara sebagian besar mata uang regional cenderung datar.

Baca Juga: Australia Siapkan US$1,76 Miliar untuk Selamatkan Smelter Aluminium Rio Tinto


Pergerakan mata uang Asia tersebut terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) Juli sesuai ekspektasi pasar.

Kondisi ini mengurangi spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September.

Mengutip data Reuters pada pukul 02.12 GMT, dolar Taiwan menguat 0,25% menjadi 32,165 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan naik 0,28% menjadi 1.414,6 per dolar AS.

Yen Jepang juga menguat tipis 0,01% menjadi 159,39 per dolar AS. Dolar Singapura nyaris tidak berubah di 1,280 per dolar AS.

Sementara itu, baht Thailand menguat 0,04% menjadi 33,09 per dolar AS dan yuan China naik 0,03% menjadi 6,744 per dolar AS.

Ringgit Malaysia justru melemah tipis 0,02% menjadi 4,084 per dolar AS.

Baca Juga: Ford Pindahkan Produksi Lincoln dari China ke AS Mulai 2030

Rupiah Melemah

Di kawasan Asia Tenggara, rupiah Indonesia menjadi salah satu mata uang yang melemah. Rupiah turun 0,06% menjadi 17.875 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.865.

Pergerakan rupiah masih berada di bawah tekanan setelah mata uang Indonesia mencatat pelemahan cukup dalam sepanjang tahun berjalan.

Berdasarkan data tersebut, rupiah telah melemah sekitar 6,74% terhadap dolar AS sejak akhir 2025.

Kinerja rupiah menjadi salah satu yang terlemah di antara mata uang Asia dalam daftar tersebut.

Rupee India tercatat melemah 5,73%, peso Filipina turun 3,94%, sedangkan baht Thailand merosot 4,96% sejak akhir 2025.

Baca Juga: Laba Bersih Singtel Naik 21% Jadi S$831 Juta pada Kuartal I 2026

Sebaliknya, won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang masih mencatat penguatan sepanjang tahun ini, yakni 1,76%. Dolar Singapura juga menguat 0,41%, sementara yuan China naik 3,62%.

Pergerakan mata uang Asia turut dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.

Data inflasi konsumen AS pada Juli menunjukkan kenaikan 0,1% secara bulanan, sesuai dengan perkiraan ekonom, sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menurun.

Pasar kini menunggu data ekonomi AS berikutnya untuk memperoleh petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan The Fed.

Perubahan ekspektasi suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk di Asia.