KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Dolar Taiwan memimpin penguatan, sementara rupiah hanya bergerak tipis di tengah pelemahan dolar AS secara global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Mengutip data
Reuters pada pukul 02.06 GMT, dolar Taiwan menguat 1,09% menjadi 31,476 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 31,818.
Baca Juga: Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas Penguatan tersebut menjadi yang paling besar di antara mata uang Asia yang tercatat dalam perdagangan pagi tersebut. Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,79% ke 153,140 per dolar AS, sementara won Korea Selatan naik 0,60% menjadi 1.336,60 per dolar AS. Penguatan yen juga terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan dapat mempercepat pengetatan kebijakan moneter. Yen sebelumnya telah menguat ke level terkuat sejak Februari. Sementara itu, rupiah hanya menguat 0,03% ke Rp17.625 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.630 per dolar AS. Mata uang Singapura naik 0,14%, baht Thailand menguat 0,12%, peso Filipina naik 0,23%, sedangkan rupee India menguat 0,98%. Di sisi lain, ringgit Malaysia dan yuan China relatif tidak berubah.
Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (8/9), ASX 200 Turun di Bawah 9.000 Rupiah Masih Tertekan Sepanjang 2026 Meski bergerak positif pada perdagangan pagi, kinerja rupiah sepanjang tahun masih menjadi salah satu yang terlemah di kawasan. Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp17.625 per dolar AS, dibandingkan Rp16.670 pada akhir 2025. Artinya, rupiah telah melemah sekitar 5,42% sepanjang 2026. Tekanan terhadap mata uang regional datang di tengah meningkatnya harga minyak akibat konflik AS-Iran. Brent kini berada di atas US$97 per barel setelah Iran mengancam membalas serangan AS dengan menargetkan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperbesar kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor energi. Sementara itu, indeks dolar AS justru berada di sekitar level terendah dalam dua pekan, dengan perhatian pasar tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini.
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Memburuk, Tertekan Biaya dan Risiko Kenaikan Suku Bunga Kinerja Mata Uang Asia Sepanjang 2026 Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar, yakni 7,77%.
Yen Jepang menguat 2,29%, dolar Singapura naik 1,68%, sedangkan yuan China menguat 4,13%. Sebaliknya, sejumlah mata uang masih mencatat pelemahan. Baht Thailand turun 4,12%, peso Filipina melemah 5,83%, rupee India turun 4,88%, dan rupiah terkoreksi 5,42%. Dolar Taiwan dalam basis akhir tahun masih tercatat melemah 0,90%, meski pada perdagangan Selasa menjadi mata uang dengan penguatan harian terbesar di kawasan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (8/9), Brent ke US$97,34 & WTI ke US$92,63