Dolar Tertahan Jumat (12/6), Pasar Sambut Positif Peluang Damai AS-Iran



KONTAN.CO.ID - Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil pada perdagangan Jumat (12/6/2026) setelah sempat melemah ke level terendah dalam sepekan.

Pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru negosiasi damai antara AS dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik dan menekan tekanan inflasi global.

Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat tipis 0,1% ke level 160,07 yen. Sementara itu, dolar Australia turun 0,1% ke US$ 0,7045 dan dolar Selandia Baru melemah 0,1% ke US$ 0,5830.


Baca Juga: IPO SpaceX Pecahkan Rekor, Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama Dunia

Di Eropa, euro bertahan di kisaran US$ 1,1576 atau mendekati level tertinggi dalam sepekan setelah keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Adapun poundsterling bergerak relatif datar di level US$ 1,3414.

Analis Westpac menilai, pasar berbalik arah pada akhir perdagangan AS setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan mengindikasikan bahwa kesepakatan damai dapat tercapai secepatnya pada akhir pekan ini.

Perkembangan tersebut turut menekan indeks dolar AS (DXY) dan mendorong penguatan sejumlah mata uang utama terhadap greenback.

Baca Juga: Iran Masih Kaji Kesepakatan, Trump Optimistis Damai Bisa Diteken Akhir Pekan

Harga Minyak Turun, Kekhawatiran Inflasi Mereda

Optimisme terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah juga memukul harga minyak dunia.

Harga minyak Brent turun 1,6% menjadi US$ 88,94 per barel pada perdagangan Asia, melanjutkan pelemahan setelah Trump menyatakan AS dan Iran berpotensi menandatangani perjanjian damai yang akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Meski demikian, Iran menegaskan bahwa belum ada keputusan final terkait kesepakatan tersebut.

Baca Juga: SpaceX Pecahkan Rekor IPO Terbesar Dunia, Raup Dana US$ 75 Miliar

Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik lebih tinggi dari perkiraan pada Mei 2026, mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah.

Namun pasar melihat rincian data tersebut masih cukup positif.

Analis IG Markets Tony Sycamore menyoroti inflasi inti produsen (core PPI), yang menjadi salah satu indikator penting bagi inflasi pilihan Federal Reserve, hanya tumbuh 4,9% secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 5,4%.

Menurutnya, kombinasi melandainya harga energi dan data inflasi inti yang lebih rendah berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang berlebihan.

Baca Juga: Harga Emas Naik 2% dan Perak Melonjak 3%, Trump Batalkan Serangan ke Iran

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Bergeser

Meredanya kekhawatiran inflasi membuat pelaku pasar kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Kontrak berjangka Fed Funds kini menunjukkan peluang sekitar 63,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober 2026. Probabilitas tersebut turun dibandingkan ekspektasi yang sempat meningkat sehari sebelumnya.

Sementara itu, di kawasan Eropa, pasar kini memperkirakan Bank Sentral Eropa akan kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang setelah langkah pengetatan pertama yang dilakukan pekan ini.

Analis Barclays menilai ECB memberikan sinyal yang relatif hawkish melalui revisi proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, bank sentral tersebut belum memberikan petunjuk yang jelas mengenai waktu dan besaran kenaikan suku bunga berikutnya.

Baca Juga: Piala Dunia Jadi Ajang Duel Nike vs Adidas, Siapa Lebih Unggul?

Kripto Menguat Tipis

Di pasar aset digital, pergerakan mata uang kripto cenderung terbatas.

Bitcoin naik tipis 0,2% ke level US$ 63.460, sementara Ether menguat 0,1% menjadi US$ 1.672.