KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil namun masih kesulitan menguat, seiring pelaku pasar yang tetap waspada terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran. Melansir
Reuters, kondisi pasar valuta asing relatif tenang pada Kamis (9/4/2026), setelah pengumuman gencatan senjata sehari sebelumnya sempat menekan dolar secara luas. Namun, ketidakpastian yang masih tinggi membuat pergerakan mata uang cenderung terbatas.
Baca Juga: Laba Uniqlo Pecah Rekor, Meski Krisis Timur Tengah Guncang Pasar Gencatan senjata dinilai masih rapuh. Hal ini terlihat dari masih berlanjutnya konflik di kawasan, termasuk serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, serta tudingan Iran bahwa AS dan Israel telah melanggar kesepakatan. Selain itu, Selat Hormuz juga masih tertutup bagi kapal yang tidak memiliki izin, sehingga menghambat arus perdagangan energi dan mendorong kenaikan harga minyak. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa seluruh aset militer AS akan tetap berada di sekitar Iran hingga kesepakatan benar-benar dipatuhi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Secara pergerakan, euro tercatat stabil di level US$1,1661 setelah sempat menguat 0,6% pada perdagangan Rabu, meski kemudian terkoreksi dari level tertingginya dalam satu bulan di US$1,1721.
Baca Juga: Bank Sentral Thailand Pertahankan Suku Bunga 1%, Risiko Inflasi Mengintai Pergerakan serupa juga terjadi pada poundsterling dan yen Jepang. Poundsterling bertahan di US$1,3393, sementara yen sedikit melemah dengan dolar naik 0,2% ke 158,9 yen, setelah sebelumnya sempat turun di bawah 158. Kepala Riset Global Markets EMEA MUFG Derek Halpenny menilai, penutupan Selat Hormuz membuat kondisi gencatan senjata tetap rentan. “Seluruh kesepakatan masih rapuh. Meskipun dolar sempat rebound, pergerakannya masih terbatas,” ujarnya. Menurutnya, rencana lanjutan pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan turut menahan volatilitas pasar. Di sisi lain, sejumlah data ekonomi global belum menjadi perhatian utama pasar. Fokus investor masih tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Di Jepang, indeks kepercayaan konsumen melemah pada Maret, mencerminkan potensi dampak ekonomi dari konflik tersebut dan menjadi tantangan bagi kebijakan suku bunga Bank of Japan.
Baca Juga: Goldman Sachs & ANZ Pangkas Prediksi Harga Minyak 2026 Usai Gencatan Senjata AS-Iran Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda juga menyatakan suku bunga riil masih berada di wilayah negatif, sehingga kebijakan moneter tetap akomodatif. Sementara itu, pasar juga menanti rilis data pengeluaran pribadi dan inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) di AS. Namun, data tersebut dinilai belum akan memberikan dampak signifikan karena mencerminkan kondisi sebelum konflik terjadi. Mata uang lainnya cenderung bergerak terbatas. Franc Swiss relatif stabil di 0,7913 per dolar AS, sedangkan dolar Australia melemah 0,3% ke level US$0,7024.