Dolar Tertekan Dekati Level Terendah Tiga Bulan Kamis (20/8), Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak mendekati level terendah dalam tiga bulan pada Kamis (20/8/2026), setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah untuk meredakan gejolak di pasar obligasi pemerintah.

Melansir Reuters, indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, berada di level 98,938, atau mendekati posisi terendah sejak pertengahan Mei.

Sementara itu, euro menguat ke US$ 1,1676, berada di sekitar level tertinggi sejak akhir Mei.


Baca Juga: Misi Penyelamatan Teleskop NASA Gagal, Swift Akan Jatuh ke Atmosfer

Tekanan terhadap dolar terjadi setelah imbal hasil obligasi AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut mendorong Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk meningkatkan likuiditas di pasar surat utang.

Departemen Keuangan AS berencana menggandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang.

Kebijakan tersebut diumumkan setelah aksi jual besar-besaran di pasar Treasury mendorong imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai 5,337%, level tertinggi dalam 19 tahun.

Setelah pengumuman tersebut, yield Treasury 30 tahun turun sekitar 9 basis poin menjadi 5,184%.

Analis pasar dari IG Tony Sycamore mengatakan, langkah Departemen Keuangan AS akan mengurangi jumlah obligasi berjangka panjang yang beredar di pasar, sementara pemerintah tetap meningkatkan penerbitan surat utang jangka pendek.

"Ini bukan quantitative easing (QE) formal dan bukan pengendalian kurva imbal hasil (yield curve control), tetapi merupakan sinyal jelas bahwa Washington siap menahan kenaikan premi jangka panjang," ujar Sycamore.

Baca Juga: Utang AS Naik Dua Kali Lipat Pada Pemerintahan Trump dan Biden, Lewati US$ 40 Triliun

Risiko Inflasi Masih Membayangi

Brian Jacobsen, Chief Economic Strategist di Annex Wealth Management menilai, kebijakan tersebut hanya menjadi solusi sementara untuk meredakan tekanan di pasar obligasi.

Menurut dia, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa AS memasuki era dominasi fiskal dan monetisasi modern.

"Federal Reserve tidak berdaya dalam memengaruhi suku bunga jangka panjang. Kini Departemen Keuangan akan menerbitkan lebih banyak utang jangka pendek karena lemahnya permintaan terhadap utang jangka panjang," kata Jacobsen.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi AS kembali menguat. Risalah rapat Federal Reserve bulan lalu menunjukkan sejumlah pejabat The Fed siap menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Putin: Serangan Ukraina ke Fasilitas Industri Tak Berdampak Besar

Banyak pejabat juga menilai kenaikan suku bunga diperlukan apabila inflasi tidak bergerak turun menuju target bank sentral AS sebesar 2%.

Di pasar valuta asing, yen Jepang berada di 158,32 per dolar AS, menjauh dari level 160 yang menjadi perhatian pasar setelah sebagian besar penguatan yen akibat intervensi bersama pada akhir Juli mulai terkikis.

Poundsterling berada di US$ 1,3603, sementara franc Swiss berada di 0,7981 per dolar AS, mendekati level terkuat dalam dua bulan.