Dollar AS masih kuat, peluang rebound euro terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) tampaknya belum pudar. Namun, akhir pekan lalu, sejumlah mata uang utama berhasil rebound, termasuk euro. Meski begitu, secara mingguan, pasangan EUR/USD masih mencatat pelemahan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (13/7) pasangan mata uang EUR/USD ditutup di posisi 1.1685 atau menguat 0,11% dari posisi hari sebelumnya. Namun dalam sepekan, euro masih melemah 0,52% terhadap dollar AS.

Puja Purbaya Sakti, analis Rifan Financindo Berjangka menjelaskan, EUR/USD masih melemah terutama pasca risalah pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang direspon negatif oleh pelaku pasar. Selain itu, "Gubernur ECB kembali mengulangi nada dovish tanpa memberikan keterangan yang baru atas kemungkinan tanggal kenaikan tingkat suku bunga berikutnya," ujar Puja, Sabtu (14/7).


Di sisi lain, kembali menguatnya kurs dollar AS disebabkan oleh laporan inflasi yang mendukung lanjutan kenaikan suku bunga The Fed. Data Consumers Price Index (CPI) AS sepanjang Juni dirilis sesuai ekspektasi di level 2,9% secara tahunan. Bahkan, data Producers Price Index (PPI) tumbuh melampaui ekspektasi yaitu 3,4%.

Puja mengatakan, dibandingkan dengan ECB, The Fed memang jauh lebih hawkish. Notulensi ECB menunjukkan bahwa bank sentral masih berkomitmen untuk menjaga pelonggaran moneter selama dibutuhkan, sembari menunggu inflasi mencapai target.

Senin esok (16/7), akan dirilis data neraca perdagangan Eropa periode Mei 2018 yang diprediksi meningkat cukup signifikan dari €16.7 miliar menjadi €23.6 miliar. "Hasil yang positif dari neraca perdagangan kawasan Eropa ini akan berdampak bagus bagi euro," kata Puja.

Sementara, AS juga akan merilis data penjualan ritel sepanjang Juni 2018 yang diprediksi menurun dari 0.8% menjadi 0.6%. Data penjualan ritel tersebut mengukur perubahan nilai total penjualan pada tingkat ritel di AS dengan tidak memperhitungkan otomotif. Jika benar data tersebut negatif, kurs dollar AS berpotensi terkoreksi sehingga memberi ruang bagi rivalnya yakni euro untuk menguat pada perdagangan selanjutnya.

Puja menganalisis, secara teknikal, indikator moving average exponential (EMA) mengecil dengan arah kurs naik, namun pada vortex indicator (VI) mengalami kondisi red over blue yang melebar di mana arah kurs berpotensi untuk melanjutkan fase konsolidasinya.

Sementara, indikator stochastic dan RSI masih mengarah ke atas. "Secara umum pasangan EUR/USD berpotensi untuk naik terbatas pada perdagangan selanjutnya," jelas Puja.

Untuk Senin (16/7), Puja memberi rekomendasi buy EUR/USD selama harga berada di atas 1,1718. Ia memproyeksikan harga pasangan mata uang ini akan bergerak dalam rentang support 1,1646 - 1,1610 -1,1565 dan resistance 1,1762 - 1,1790 - 1,1840.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat