Dollar AS masih perkasa menghadapi mata uang utama dunia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) akhir pekan lalu masih cukup kuat. Jumat (16/2), pasangan EUR/USD terkoreksi 0,80% ke level 1,2406. GBP/USD turun 0,52% menjadi 1,4026. Sedangkan pairing USD/JPY naik tipis 0,08% ke posisi 106,21.

Dollar AS menguat didorong sentimen tingkat inflasi. Pekan lalu, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis, inflasi di Januari mencapai 0,5%. Angka ini lebih tinggi dari konsensus proyeksi sebesar 0,3%.

Kenaikan tersebut membuat inflasi tahunan AS mencapai 2,1%. Alhasil, potensi The Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih dari tiga kali sempat meningkat.


Di saat yang sama, harga barang impor di AS naik 1%, dari perkiraan cuma naik 0,6%. Pembangunan rumah baru di AS bulan lalu juga mencapai rekor tertinggi sejak Oktober 2016. Kenaikan ini dipicu oleh pembangunan apartemen.

Meski begitu, sejumlah indikator menunjukkan pembangunan rumah baru di AS berpotensi merosot. Pasalnya,  terjadi kekurangan pekerja, kenaikan harga bahan baku serta kelangkaan barang siap pakai.

Selain itu, secara tak terduga penjualan ritel AS anjlok 0,3%. Padahal, konsensus analis memprediksi penjualan ritel akan tumbuh 0,2%. Penurunan ini terjadi karena adanya pengurangan pembelian kendaraan bermotor dan bahan bangunan.

Di saat yang sama, penjualan ritel di Inggris hanya naik 0,1%. Padahal analis memprediksi penjualan bisa naik 0,5%. Ini membuat poundsterling loyo. Analis Monex Investindo Future Putu Agus Pransuamitra menyebut, secara teknikal, pasangan GBP/USD sudah menunjukkan sinyal koreksi.

Sedang euro tertekan sentimen negatif komentar dovish dari Benoit Coeuré, salah satu pejabat European Central Bank (ECB). Dia bilang ECB tidak akan menaikkan suku bunga sebelum program pembelian obligasi berakhir.

Lalu, kurs yen, menurut analis Central Capital Future Wahyu Tribowo Laksono, merosot akibat koreksi teknikal. "Yen sudah overbought. Memang komentar Menkeu Jepang berpotensi meredam pelemahan yen, tapi dalam jangka pendek dollar AS masih menguat," terang dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati