Dollar menguat, pembiayaan Eximbank bisa naik 10%



JAKARTA. Tidak semua industri tertekan dengan melemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. PT Indonesia Eximbank (Eximbank) memprediksi nilai penyaluran pembiayaan ekspor akan mengalami kenaikan hingga 10% pada semester dua. Sebab, kondisi saat ini eksportir mendulang untung dengan harga jual di tinggi di pasar.

Pelemahan rupiah ini menjadi momentum untuk meningkatkan ekspor. Khususnya ekspor sektor andalan Indonesia seperti: perkebunan, furniture dan tekstil. Secara sederhana pemasukan ekspor akan lebih besar.

Basuki Setyadjid, Direktur Eximbank mengklaim, eksportir masih nyaman dengan rupiah saat ini mencapai Rp 14.000 karena pendapatan eksportir naik. Kondisi ini juga terjadi di Eximbank, Basuki menyebut nilai pembiayaan secara bulan ke bulan mengalami kenaikan.


"Agustus ini mungkin baru terlihat kenaikannya sebelum dollar menjadi Rp 14.000. Nasabah kami semakin terpacu untuk bisa ekspor lebih besar. Sehingga pembiayaannya naik," ujar Basuki pada Rabu (2/9). Ia memprediksi, kenaikan nilai pembiayaan sekitar 7% sampai 10% sejalan dengan naiknya nilai mata uang rupiah terhadap dollar.

Sampai Juni, penyaluran pembiayaan Eximbank mencapai Rp 64,1 triliun naik 20% dibandingkan posisi sama tahun 2014. Sementara, hingga akhir tahun target pembiayaan Eximbank mencapai Rp 70 trilun hingga Rp 75 triliun. Dalam kondisi ini, pencapaian pembiayaan Rp 75 triliun dipastikan bisa tercapai.

Pembiayaan ekspor yang mengalami kenaikan mencakup sektor perkebunan yakni kelapa sawit, karet dan kakao yang secara volume ekspor terbilang stabil. Berikutnya sektor pertanian dan sektor industri seperti: tekstile, furniture dan timah juga masih terbilang bagus.

Adapun komposisi pembiayaan dalam bentuk Dollar dengan Rupiah sebesar 54% dan 46%. Sedangkan komposisi pembiayaan paling besar berasal dari sektor perindustrian seperti: tekstile, furniture dengan persentase 50%.

Pertanian sebanyak 14%, konstruksi 10%, jasa dunia usaha 7%. Pengangkutan, pergudangan dan telekomunikasi sebesar 9%. Sisanya, tersebar di sektor perdagangan restorant hotel, pertambangan, listrik, air dan gas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri