KONTAN.CO.ID. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia hampir menentukan sosok yang akan menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Dalam wawancara dengan
CNBC di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Rabu (21/1/2026), Trump mengatakan proses seleksi telah mengerucut dan kini tinggal satu kandidat di benaknya. “Kami awalnya tiga, lalu jadi dua. Dan saya bisa bilang mungkin sekarang tinggal satu di pikiran saya,” ujar Trump.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump ke Eropa Batal, Ada Apa di Balik Greenland? Trump juga menyatakan ketertarikannya untuk mempertahankan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, di posisinya saat ini. Menurut Trump, Hassett terlalu berharga untuk dipindahkan. “Saya justru ingin mempertahankannya di tempat dia sekarang. Saya tidak ingin kehilangan dia. Dia sangat bagus di televisi,” kata Trump. Trump menyebut seluruh kandidat yang tersisa sebagai sosok berkualitas. Salah satu nama yang ia puji adalah Rick Rieder, kepala manajer investasi obligasi BlackRock, yang dinilai tampil sangat mengesankan saat wawancara. Selain Rieder, dua kandidat lain yang sebelumnya disebut Trump dan para pembantunya adalah Gubernur The Fed Christopher Waller dan mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Naik Rabu (21/1/2026), Brent ke US$ 65,24 dan WTI ke US$ 60,62 Pada Selasa (20/1), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Trump telah menyaring kandidat menjadi empat orang. Trump kembali melontarkan kritik terhadap Jerome Powell, yang kerap menjadi sasaran kecamannya. Trump menilai Powell terlalu lambat memangkas suku bunga dan mengkritik kepemimpinannya secara keseluruhan di bank sentral AS. Saat ditanya apakah Scott Bessent masuk dalam kandidat Ketua The Fed, Trump menyebutnya sosok yang “fantastis”, namun menegaskan Bessent ingin tetap menjabat sebagai Menteri Keuangan. Sebelumnya, Bessent mengatakan keputusan soal Ketua The Fed baru kemungkinan diumumkan sesaat sebelum atau setelah pertemuan di Davos. Trump menyebut dirinya menginginkan sosok Ketua The Fed seperti Alan Greenspan, mantan Ketua The Fed yang menjabat lama.
Baca Juga: Indonesia dan Beberapa Negara Ini Mendapat Undangan Bergabung Dewan Perdamaian Gaza Trump berpendapat pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak selalu memicu inflasi atau mengharuskan kenaikan suku bunga. “Dulu, saat ekonomi bagus, pasar saham naik setelah data positif diumumkan. Sekarang, pasar justru anjlok karena mereka berpikir suku bunga akan dinaikkan,” ujar Trump. Pernyataan Trump ini muncul di tengah memanasnya hubungan pemerintahannya dengan Jerome Powell. Pekan lalu, Alan Greenspan bersama sejumlah mantan pejabat keuangan senior mengecam penyelidikan pidana yang diluncurkan pemerintahan Trump terhadap Powell. Trump dan Bessent juga mengkritik Powell atas kebijakan suku bunga. Bahkan, Departemen Kehakiman AS telah melayangkan surat panggilan (subpoena) kepada Powell terkait renovasi gedung kantor pusat The Fed. Powell menyatakan ancaman tuntutan pidana tersebut merupakan konsekuensi dari independensi The Fed dalam menetapkan suku bunga berdasarkan kepentingan publik, bukan mengikuti keinginan presiden. Sebagai catatan, Trump menunjuk Powell sebagai Ketua The Fed pada 2017, dan Presiden Joe Biden kemudian mengukuhkannya kembali untuk masa jabatan kedua.
Baca Juga: Harga Emas Pangkas Kenaikan Usai Trump Lunakkan Ancaman Tarif Greenland Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed berakhir Mei 2026, sementara masa jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed berlangsung hingga 2028. Trump bahkan menyiratkan tekanan terhadap Powell agar mundur lebih cepat.
“Saya rasa hidupnya tidak akan terlalu bahagia jika dia memilih bertahan sampai masa jabatannya di Dewan Gubernur berakhir,” kata Trump. Namun Powell sejauh ini belum memberikan pernyataan tegas mengenai rencananya ke depan.