Donald Trump Disebut Siap Akhiri Perang Iran Meski Selat Hormuz Masih Tertutup



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membuka opsi untuk mengakhiri kampanye militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz masih belum sepenuhnya dibuka kembali.

Laporan tersebut disampaikan oleh The Wall Street Journal pada Senin (30/3/2026), yang mengutip sejumlah pejabat pemerintahan.

Dalam laporan itu disebutkan, Trump bersedia mengakhiri konflik lebih cepat dan menunda upaya kompleks untuk membuka kembali jalur strategis tersebut ke tahap berikutnya.


Baca Juga: Harga Minyak Naik Hari Keempat Selasa (31/3) Pagi, Brent ke US$115,04 per Barel

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Penutupan jalur ini akibat konflik telah memicu lonjakan harga energi dan mengguncang pasar global.

Di sisi lain, laporan terpisah dari Financial Times mengungkap adanya upaya investasi besar yang dikaitkan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menjelang dimulainya serangan AS-Israel ke Iran.

Menurut laporan tersebut, seorang broker yang disebut mewakili Hegseth sempat menghubungi BlackRock pada Februari untuk membahas investasi bernilai jutaan dolar dalam produk ETF sektor pertahanan. Kontak itu dilakukan melalui Morgan Stanley.

Namun, investasi tersebut tidak terealisasi karena produk ETF yang dimaksud belum tersedia untuk klien Morgan Stanley saat itu.

Juru bicara Pentagon Sean Parnell membantah keras laporan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi yang “sepenuhnya salah dan dibuat-buat”.

Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Kuwait Terbakar di Dubai Usai Serangan Iran, Tidak Ada Korban

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada pihak dari Hegseth yang melakukan pendekatan kepada BlackRock terkait investasi tersebut.

BlackRock menolak memberikan komentar, sementara Morgan Stanley belum merespons permintaan konfirmasi.

Laporan mengenai dugaan upaya investasi ini muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap aktivitas transaksi di pasar keuangan dan prediksi menjelang keputusan besar kebijakan pemerintah AS.

Sejumlah pengamat menilai adanya pola transaksi yang mencurigakan, yang memunculkan kekhawatiran potensi kebocoran informasi sebelum kebijakan diumumkan secara resmi.