Donald Trump Hentikan Sementara Pengawalan Kapal di Selat Hormuz, Ada Apa?



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/CAIRO. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, menyusul adanya “kemajuan besar” menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran.

Keputusan ini diambil di tengah konflik yang telah membuat jalur pelayaran strategis tersebut nyaris tertutup, mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dunia dan memicu krisis energi global.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% pada Rabu (6/5) Pagi, di Tengah Pelemahan Dolar


“Kami sepakat bahwa meskipun blokade tetap berlaku penuh, Project Freedom akan dihentikan sementara untuk melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump di media sosial yang dilansir Reuters Selasa (5/5/2026).

Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak Iran terkait pernyataan tersebut.

Tak lama setelah pengumuman Trump, harga minyak mentah AS turun sekitar US$2,30 dan kembali berada di bawah level psikologis US$100 per barel.

Operasi Militer Diklaim Selesai

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuannya dalam operasi militer terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari bersama Israel.

“Operation Epic Fury telah selesai. Kami tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut,” ujar Rubio.

Baca Juga: Dolar AS Melemah di Tengah Harapan Kesepakatan dengan Iran, Yen Masih Tertekan

Meski demikian, pejabat AS menegaskan bahwa Iran tidak boleh menguasai lalu lintas di Selat Hormuz.

Selama konflik, Iran disebut menutup jalur tersebut dengan ancaman ranjau, drone, rudal, serta kapal cepat.

Sebagai respons, AS melakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengawal kapal-kapal dagang.

Militer AS sebelumnya mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal kecil Iran, serta rudal dan drone di kawasan tersebut.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai dapat diamankan, dengan ratusan kapal komersial menunggu untuk melintas.

Ia menegaskan bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar empat minggu masih tetap berlaku.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun Rabu (6/5) Pagi, Brent ke US$108,35

“Saat ini gencatan senjata masih bertahan, tetapi kami akan memantau situasi dengan sangat ketat,” ujarnya.

Jenderal Dan Caine dari Kepala Staf Gabungan AS menambahkan bahwa serangan Iran terhadap pasukan AS masih berada di bawah ambang yang dapat memicu operasi tempur besar.

Ketegangan Masih Berlanjut

Di tengah upaya de-eskalasi, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran, meskipun hal tersebut dibantah oleh pihak Teheran.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi serius dan menyatakan memiliki hak penuh untuk merespons.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa tindakan militernya hanya bertujuan untuk mempertahankan diri dari agresi AS.

Baca Juga: AS Klaim Tewaskan 3 Orang dalam Serangan Kapal di Pasifik Timur, Picu Kritik HAM

Upaya Diplomasi dan Dampak Global

Konflik yang meluas hingga Lebanon dan kawasan Teluk ini telah menewaskan ribuan orang serta mengguncang ekonomi global.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan dampaknya masih akan terasa selama tiga hingga empat bulan ke depan, bahkan jika konflik segera berakhir.

Upaya diplomasi masih berlangsung, dengan Pakistan berperan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan pembicaraan damai terus berlanjut dan saat ini berada dalam tahap perkembangan.

Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan konkret yang berhasil dicapai antara kedua pihak.

Baca Juga: Harga Minyak Bergerak Tipis di Pagi Ini (6/5): Stok Minyak AS Turun

Konflik ini juga menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu paruh waktu, terutama akibat lonjakan harga energi yang membebani masyarakat.

AS menegaskan bahwa serangan militernya bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program nuklirnya bersifat damai sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).