Donald Trump Kritik NATO soal Iran, Hubungan Aliansi Memanas



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap NATO dalam pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih pada Rabu (8/4/2026).

Ketegangan ini muncul seiring memanasnya hubungan di dalam aliansi militer tersebut akibat perang Iran, yang memicu perbedaan sikap di antara negara-negara anggota.

Melansir Reuters, Rutte mengakui bahwa Trump merasa kecewa terhadap sejumlah sekutu NATO.


Baca Juga: Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh

“Ini adalah diskusi yang sangat terbuka dan jujur, tetapi tetap antara dua sahabat,” ujar Rutte dalam wawancara dengan CNN setelah pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam.

Sebelumnya, Gedung Putih menyampaikan pernyataan Trump yang menilai NATO gagal dalam merespons konflik Iran. “Mereka diuji, dan mereka gagal,” ujar Trump.

Sejumlah negara anggota NATO dilaporkan menolak mendukung operasi militer AS terhadap Iran, termasuk dengan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara maupun tidak mengirimkan kekuatan angkatan laut untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker energi.

Rutte tidak merinci negara mana yang dimaksud, namun menyebut bahwa sebagian anggota memang tidak memenuhi komitmen, meski mayoritas negara Eropa dinilai tetap memberikan dukungan.

Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump bahkan menyatakan bahwa NATO tidak hadir saat dibutuhkan dan kemungkinan tidak akan hadir di masa depan.

Ia juga kembali menyebut NATO sebagai “macan kertas” dan mengancam akan menarik AS dari aliansi tersebut.

Baca Juga: Pajak Ekspor Minyak Brasil Dibatalkan: Raksasa Migas Hemat Miliaran

Tekanan pada Aliansi Transatlantik

Konflik Iran semakin memperdalam ketegangan transatlantik, di tengah isu lain seperti perang di Ukraina, kebijakan pertahanan, hingga beban anggaran militer.

Pemerintah AS menilai negara-negara NATO telah “membelakangi rakyat Amerika” yang selama ini menanggung beban besar dalam pembiayaan pertahanan aliansi.

Di sisi lain, negara-negara Eropa cenderung enggan terlibat lebih jauh dalam operasi militer di Timur Tengah, terutama selama konflik masih berlangsung.

Meski demikian, sejumlah pejabat AS secara tertutup disebut tetap meyakinkan pemerintah Eropa bahwa komitmen Washington terhadap NATO masih terjaga.

Pengamat dari Royal United Services Institute, Oana Lungescu, menyebut situasi ini sebagai titik berbahaya bagi hubungan transatlantik.

“Ini adalah momen yang berbahaya bagi aliansi transatlantik,” ujarnya.

Baca Juga: Semenanjung Korea Memanas: Korut Uji Hulu Ledak Bom Kluster Berdaya Rusak

Dampak Lebih Luas

Ketegangan ini juga berpotensi mengalihkan fokus AS dari dukungan terhadap Ukraina, yang menjadi prioritas utama bagi sebagian besar anggota NATO di Eropa.

Selain itu, sikap Trump terhadap Rusia serta wacana pengambilalihan Greenland dari Denmark turut meningkatkan kekhawatiran di kalangan sekutu.

NATO sendiri merupakan aliansi pertahanan yang didirikan pada 1949 dan selama ini menjadi pilar utama keamanan Barat.

Namun, perbedaan kepentingan dalam konflik Iran menunjukkan tantangan baru dalam menjaga soliditas aliansi tersebut.

Ke depan, dialog antara AS dan NATO diperkirakan akan terus berlanjut, terutama terkait pembagian beban pertahanan, konflik Iran, serta dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.