Donald Trump Menunjuk Kevin Warsh sebagai Calon Ketua Federal Reserve Selanjutnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengumumkan Kevin Warsh sebagai calon pengganti Jerome Powell untuk posisi Ketua Federal Reserve (The Fed).

Langkah ini menutup spekulasi berbulan-bulan mengenai siapa yang akan dipilih Trump, setelah presiden sebelumnya secara terbuka mendorong pemangkasan suku bunga dan mencoba memengaruhi kebijakan bank sentral AS.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan, “Saya telah mengenal Kevin dalam waktu yang lama, dan tidak diragukan lagi dia akan menjadi salah satu Ketua Fed TERHEBAT, mungkin yang terbaik. Selain itu, dia sangat tepat untuk posisi ini (‘central casting’) dan tidak akan mengecewakan Anda.”


Baca Juga: Obligasi Jangka Panjang AS Tertekan Usai Trump Pastikan Kevin Warsh Ketua The Fed

Kevin Warsh, 55 tahun, adalah mantan gubernur Federal Reserve yang memiliki hubungan erat dengan Wall Street. Ia sebelumnya pernah diwawancarai untuk posisi ketua pada 2017, saat jabatan itu akhirnya diberikan kepada Powell, yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei mendatang.

Penunjukan Trump harus mendapatkan konfirmasi dari Senat AS sebelum resmi berlaku.

Peran Strategis Ketua Federal Reserve

Menjadi Ketua Federal Reserve merupakan salah satu posisi paling berpengaruh dalam pemerintahan AS, dengan dampak besar terhadap ekonomi terbesar di dunia.

Stephen Brown, ekonom AS dari Capital Economics, menyebut Warsh sebagai “pilihan yang relatif aman” dan dapat meredakan kekhawatiran pasar bahwa presiden akan menunjuk “boneka Trump penuh” untuk memimpin Fed berikutnya.

Setelah laporan mengenai kemungkinan penunjukan Warsh, dolar AS sempat menguat pada Jumat pagi, namun kembali melemah setelah pengumuman resmi. Sementara itu, harga emas turun sebesar 4,8% menjadi USD 5.132 per ons.

Catatan dan Pandangan Warsh

Warsh sebelumnya telah memperingatkan risiko inflasi di AS, tetapi juga sejalan dengan kritik Trump terhadap Fed yang dianggap terlalu lambat menurunkan suku bunga.

Sejak mengundurkan diri dari bank sentral pada 2011 terkait paket stimulus pasca krisis keuangan, Warsh secara terbuka mengkritik kebijakan Fed, termasuk menyebut para bankirnya seharusnya tidak diperlakukan sebagai “pangeran manja” dan terlalu sering “beropini di luar kewenangannya,” yang menurutnya menyebabkan “kesalahan sistemik” dalam tugas utama menjaga stabilitas harga.

Warsh, seorang New Yorker, pernah menjabat sebagai asisten khusus untuk kebijakan ekonomi (2002–2006) dan gubernur Fed (2006–2011), termasuk selama penanganan krisis keuangan global. Ia juga menjadi perwakilan Fed di forum G20.

Baca Juga: Dolar AS Bertahan Menguat Usai Trump Tunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed

Saat ini, Warsh menjadi dosen di Stanford Graduate School of Business dan memegang posisi di UPS, perusahaan e-commerce Korea Coupang, serta Duquesne Family Office, firma investasi milik miliarder Stanley Druckenmiller.

Warsh menikah dengan Jane Lauder, cucu dari konglomerat kosmetik Estée Lauder dan putri miliarder Ronald Lauder, yang memiliki kepentingan bisnis di Greenland dan mendorong Trump untuk mencoba mengakuisisi wilayah tersebut.

Kandidat Lain dan Posisi Kebijakan

Beberapa kandidat lain yang masuk daftar pendek calon Ketua Federal Reserve antara lain Kevin Hassett (Direktur National Economic Council), Christopher Waller (Gubernur Fed), dan Rick Rieder (eksekutif BlackRock).

Warsh dikenal sebagai pengkritik kebijakan moneter ultra-lunak Fed sejak krisis keuangan, termasuk ekspansi neraca bank sentral.

Meskipun sebelumnya dianggap sebagai “hawk” moneter, Warsh tampaknya mendukung dorongan pemerintahan Trump untuk menurunkan biaya pinjaman. Pada Desember lalu, Trump mengatakan mengenai Warsh, “Dia berpikir suku bunga harus diturunkan.”

Menurut Stephen Brown, pandangan hawkish Warsh yang lama akan membantu menenangkan kekhawatiran bahwa ia bisa menjadi “boneka Trump penuh.”

Namun, keyakinannya bahwa kecerdasan buatan (AI) dan dorongan regulasi pemerintahan Trump akan menahan inflasi, serta pandangannya bahwa Fed seharusnya mengoperasikan neraca yang jauh lebih kecil, bisa menimbulkan tekanan naik pada imbal hasil obligasi jangka panjang.

Selanjutnya: PBB Berada di Ambang Kebangkrutan Finansial, Ini Penyebabnya

Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global