Donald Trump Siapkan Perang Ekonomi, Negara Pendukung Iran Jadi Target



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan akan menjatuhkan konsekuensi ekonomi terhadap negara mana pun yang memberikan bantuan kepada Iran di tengah upaya Washington mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Melansir Reuters, Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui media sosial pada Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Ekspor Jepang Melonjak pada Juli, Didorong Permintaan Chip


Ia menjanjikan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap pihak yang membantu Iran, meski tidak menjelaskan secara rinci bentuk tindakan yang akan diberlakukan.

"Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang SANGAT BESAR," tulis Trump.

Trump juga tidak menyebut negara tertentu sebagai target. Namun, ancaman tersebut berpotensi mencakup negara-negara yang selama ini membantu memediasi perundingan antara AS dan Iran.

Baca Juga: Ringgit Perkasa Kamis (20/8), Mayoritas Mata Uang Asia Menguat terhadap Dolar AS

Ketegangan di Selat Hormuz

Perang AS dan Iran telah menewaskan ribuan orang dan meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

Konflik tersebut juga mengguncang pasar global karena Iran menunjukkan kemampuannya mengendalikan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.

AS dan Iran sebelumnya dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, masing-masing pada April dan Juni.

Kesepakatan tersebut bertujuan memulihkan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.

Namun, kedua kesepakatan tersebut dengan cepat runtuh. Israel sendiri telah menarik sebagian besar pasukannya dari pertempuran.

Ancaman Trump muncul setelah Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa mengumumkan penghentian sementara seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial dan transaksi keuangan dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan.

UEA merupakan salah satu negara yang menjadi mediator dalam upaya perdamaian, sekaligus menjadi tuan rumah pangkalan militer utama AS.

Baca Juga: Tingkat Pengangguran Australia Naik ke 4,5%, Tertinggi Hampir 5 Tahun

China Berpotensi Jadi Titik Konflik

Kebijakan baru Trump juga berpotensi meningkatkan ketegangan dengan China. Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler pada 2025, China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut.

Penerapan tekanan ekonomi lebih lanjut terhadap China berisiko memicu tindakan balasan, mengingat China merupakan salah satu eksportir utama ke AS, termasuk untuk komoditas strategis seperti mineral tanah jarang atau rare earth.

Iran sendiri masih menyatakan terbuka terhadap dialog dengan AS. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber mengatakan Iran tidak menyamakan negosiasi dengan menyerah.

Menurut dia, tekanan militer dan sanksi ekonomi tidak akan membuat Iran mengubah sikapnya.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Trump pada Selasa yang mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran.

Sehari sebelumnya, menantu Trump sekaligus utusan khusus AS, Jared Kushner, mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan bahkan kemungkinan lebih intensif dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: GLOBAL MARKETS - Obligasi Stabil Setelah AS Redam Gejolak Pasar & Saham Asia Menguat

Trump Ingin Batasi Program Nuklir Iran

Trump juga berupaya mengambil alih persediaan uranium yang telah diperkaya Iran serta mendorong terciptanya kesepakatan baru yang lebih ketat untuk membatasi program energi dan penelitian nuklir Iran.

Kesepakatan tersebut akan menggantikan perjanjian nuklir yang secara sepihak ditinggalkan AS pada 2018.

Iran, yang merupakan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), selama beberapa dekade menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.