KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya meredam kekhawatiran ekonomi sekaligus memperbaiki posisi politik Partai Republik di tengah meningkatnya harga bahan bakar dan tekanan inflasi yang kian membebani konsumen. Melansir laporan
Reuters Kamis (16/4/2026), dalam kunjungan kampanye ke negara bagian Nevada dan Arizona, Trump memanfaatkan momentum untuk mempromosikan agenda pajak dan imigrasi yang menjadi bagian dari janji kampanyenya, khususnya yang menyasar pekerja sektor jasa seperti
hospitality dan pekerja bergaji per jam.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Jumat (17/4) Pagi: Brent ke US$ 98,05 dan WTI ke US$ 93,40 Namun, lonjakan harga kebutuhan pokok mulai dari bahan bakar, pangan, perumahan, hingga asuransi mulai menekan daya beli masyarakat dan melemahkan sentimen terhadap kinerja ekonomi pemerintah. Sejumlah strategis Partai Republik menilai pemerintahan Trump mulai kehilangan kendali atas isu keterjangkauan biaya hidup, yang kini menjadi faktor utama dalam persepsi publik menjelang pemilu paruh waktu (
midterm). “Biaya hidup akan mengalahkan segalanya,” kata seorang profesor ilmu politik dari University of Nevada, Las Vegas, David Damore, menyoroti dominasi isu inflasi dalam preferensi pemilih.
Baca Juga: Ekspor Nonmigas Singapura Melonjak 15,3% pada Maret, Lampaui Ekspektasi Tekanan Politik Jelang Midterm Tekanan politik semakin besar karena Partai Republik menghadapi peta pemilu yang semakin sulit, dengan peluang kehilangan mayoritas di DPR serta persaingan ketat di sejumlah kursi Senat seperti North Carolina, Georgia, Ohio, hingga Nebraska. Berdasarkan sejumlah survei, tingkat
approval Trump juga tercatat melemah, menambah kekhawatiran di internal partai. Di sisi lain, sebagian penasihat politik Gedung Putih tetap optimistis bahwa dampak ekonomi dapat mereda jika tercapai kesepakatan dengan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, sehingga menurunkan harga energi global.
Baca Juga: Kilang Terbesar Terbakar, Australia Pastikan Tak Ada Pembatasan BBM Harga BBM Jadi Titik Lemah Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu isu paling sensitif. Pemerintah memang telah mengambil sejumlah langkah seperti pelepasan cadangan minyak strategis, penyesuaian aturan perdagangan energi, hingga pelonggaran sanksi minyak, namun harga minyak global tetap bertahan di atas US$ 90 per barel. Kondisi ini memperburuk inflasi yang sudah merembet ke berbagai sektor, termasuk transportasi dan barang konsumsi. Sejumlah pelaku industri energi menilai opsi pemerintah untuk menurunkan harga kini semakin terbatas.
Baca Juga: Gencatan Senjata Israel-Lebanon Dilanggar, Situasi Masih Rawan Kebijakan Pajak Jadi Andalan Dalam upaya meredam tekanan politik, Trump juga menonjolkan kebijakan penghapusan pajak untuk tip pekerja sektor jasa, yang diklaim dapat meningkatkan pendapatan jutaan pekerja di sektor
hospitality. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari paket reformasi pajak yang diharapkan dapat menjaga dukungan pemilih kelas pekerja menjelang pemilu mendatang. Meski demikian, analis menilai dampak kebijakan pajak tersebut bisa teredam oleh tekanan inflasi dan harga energi yang masih tinggi.