Donald Trump Tebar Ancaman Serangan saat Perundingan AS-Iran Islamabad Talk Dimulai
Sabtu, 11 April 2026 22:31 WIB
Oleh: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - ISLAMABAD. Eskalasi ketegangan di jalur nadi energi dunia, Selat Hormuz, mencapai titik didih. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Sabtu (11/4/2026), mengumumkan melalui media sosial bahwa militer Negeri Paman Sam telah melancarkan operasi pembersihan di Selat Hormuz. Trump mengklaim seluruh kapal penebar ranjau milik Iran telah berhasil dilumpuhkan. "Kami sekarang memulai proses pembersihan Selat Hormuz," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social. Ia menambahkan bahwa "seluruh 28" kapal penebar ranjau Iran kini telah karam dan berada di dasar laut. Hanya selang beberapa menit sebelum unggahan Trump mencuat, berbagai laporan mulai bermunculan mengenai kehadiran gugus tempur laut AS di selat strategis tersebut. Seorang jurnalis Axios, mengutip sumber pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa sejumlah kapal perang AS telah menyeberangi selat pada hari Sabtu. Namun, klaim ini segera mendapat perlawanan narasi. TV pemerintah Iran melaporkan bantahan resmi dari otoritas militer Teheran yang menampik adanya kekalahan tersebut.
Trump berulang kali menegaskan bahwa pasukan Amerika telah menghancurkan kekuatan laut dan udara Iran, sembari melumpuhkan program rudal balistik serta nuklir negara tersebut. Meski demikian, bayang-bayang serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial selama beberapa pekan terakhir telah melumpuhkan aktivitas di Selat Hormuz. Padahal, selat ini merupakan kanal kritis bagi pasokan minyak global. Tersumbatnya jalur ini terbukti telah mengocok pasar energi dunia. Harga bensin di AS pun melesat tajam, meskipun faktanya sebagian besar minyak yang melintasi jalur tersebut tidak dialokasikan langsung untuk pasar Amerika Serikat. Baca Juga: Donald Trump Telepon Vladimir Putin, Bahas Perang Iran dan Perdamaian Di tengah situasi yang kian membara, upaya diplomasi masih diupayakan. Perwakilan dari Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah memulai pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad pada Sabtu. Negosiasi ini berlangsung di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang sangat rapuh. Tensi diplomatik di Islamabad mencapai titik didih. Hari ini, Sabtu (11/4), pembicaraan krusial antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi dibuka di ibu kota Pakistan. Perundingan ini menjadi pertaruhan besar setelah konflik bersenjata yang telah menyeret kawasan tersebut selama 42 hari sejak meletus pada 28 Februari 2026 lalu. Mengutip laporan Reuters dan Al Jazeera, meskipun gencatan senjata dua minggu telah berlaku sejak 8 April, suasana di meja perundingan jauh dari kata tenang. Delegasi kelas berat AS dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Di seberang meja, Teheran mengirimkan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Baca Juga: Iran Ancam Serang Basis AS, Trump Tarik Sebagian Personel Militer di Timur Tengah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, bersama Marsekal Lapangan Asim Munir, Menlu Ishaq Dar, dan Penasihat Keamanan Nasional Mohammed Asim Malik bertindak sebagai mediator dalam upaya mendinginkan bara konflik ini. Stasiun penyiaran resmi Iran, IRIB, melaporkan bahwa komunikasi telah dimulai. Namun, belum ada kepastian apakah kedua pihak bertemu langsung secara tatap muka. Jika terkonfirmasi sebagai negosiasi langsung, ini akan menjadi torehan sejarah sebagai pertemuan tingkat tertinggi antara AS dan Iran sejak revolusi 1979. Fokus utama Gedung Putih tetap tegas: memastikan Teheran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir.
Gertakan Trump dan Sabotase Israel
Hanya hitungan jam sebelum perundingan dimulai, Presiden Donald Trump kembali mengguyur bensin ke dalam api diplomasi. Berdasarkan laporan CNN, Trump menegaskan bahwa armada kapal perang AS telah dalam posisi siaga tempur. "Jika tidak ada kesepakatan, kami akan menggunakan senjata-senjata tersebut dengan sangat efektif," ancam Trump.
Tonton: Kronologi Anggota DPR Ahmad Sahroni, Hampir Ditipu dan Menjebak KPK Palsu Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap skeptis. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, memperingatkan bahwa kesepakatan mustahil tercapai jika AS tetap mengedepankan agenda "Israel First" ketimbang "America First". Teheran menegaskan siap melanjutkan pertahanan jika diplomasi menemui jalan buntu. Upaya damai ini juga dibayangi aksi militer Israel. Mengutip data Antara dan sumber lokal, operasi bertajuk "Eternal Darkness" yang dilancarkan Tel Aviv di Lebanon pada 8 April lalu disebut-sebut sebagai upaya sistematis untuk memangkas peluang damai. Serangan udara tersebut menghantam lebih dari 100 target dan tercatat menewaskan sedikitnya 254 orang di Beirut, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan. Juru bicara Kemlu Iran, Esmail Baghaei, menekankan bahwa stabilitas di Lebanon menjadi variabel kunci. Dunia kini tertuju pada Islamabad dalam 24 jam ke depan, menanti apakah diplomasi ini akan membuahkan hasil atau justru membuat kawasan Timur Tengah kembali terjerembap ke dalam perang yang lebih luas.
Jet Tempur F-16 Kawal Indonesia One Saat Perjalan Dinas Presiden Prabowo