DOOH Rights Issue 154,7 Miliar Saham, Potensi Dilusi 95% Demi Akuisisi INET



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) menyiapkan rights issue jumbo hingga 154,78 miliar saham untuk membiayai transformasi bisnis menjadi perusahaan induk yang berfokus pada ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, di balik rencana ekspansi tersebut, emiten yang dikenal dengan nama SSPACE ini juga akan menggunakan dana hasil aksi korporasi untuk melunasi pinjaman dari pemegang saham pengendali barunya.

Corporate Secretary PT Era Media Sejahtera Tbk Devi Nisa Suhartono dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026) mengatakan bahwa perusahaan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 154.777.820.720 saham baru dengan nilai nominal Rp 10 per saham.

Dengan jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh saat ini sebanyak 7,74 miliar saham, jumlah maksimum penerbitan tersebut setara dengan rasio indikatif rights issue 1:20. Artinya, setiap pemegang satu saham lama berpotensi memperoleh sebanyak-banyaknya 20 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), dengan setiap satu HMETD memberikan hak untuk membeli satu saham baru.


Baca Juga: Utang Lama Menumpuk, Pefindo: Rating BUMN Karya Sulit Pulih

Apabila seluruh saham baru diterbitkan, jumlah saham DOOH berpotensi meningkat menjadi sekitar 162,52 miliar saham. Sementara itu, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berisiko mengalami dilusi kepemilikan hingga 95,24%.

Meski demikian, jumlah saham yang diterbitkan masih berupa batas maksimum. Harga pelaksanaan, target dana yang dihimpun, rasio final HMETD, serta ketentuan penerbitan Waran Seri II belum ditetapkan. Perusahaan juga belum menunjuk pembeli siaga atau standby buyer untuk menjamin penyerapan saham baru.

Devi menjelaskan, dana hasil rights issue setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk dua tujuan utama, yakni melunasi utang kepada pemegang saham pengendali dan membiayai ekspansi serta pengembangan usaha di bidang ekosistem AI.

Bayar utang pemegang saham pengendali

Salah satu kewajiban yang akan dilunasi berasal dari fasilitas pinjaman PT Sinergi Internasional Investama (SII), pemegang saham pengendali baru DOOH dengan kepemilikan 51% sejak 30 Juli 2026.

Berdasarkan perjanjian pinjaman pemegang saham yang ditandatangani pada 1 September 2026, SII menyediakan fasilitas pinjaman dengan plafon hingga Rp 5 triliun. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendanai investasi melalui anak usaha DOOH, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), dalam rangka rencana pengambilalihan saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).

Pinjaman tersebut memiliki tenor 10 tahun dengan bunga 7,5% per tahun atas saldo pokok terutang. Fasilitas ini juga tidak disertai jaminan kebendaan dan dapat dilunasi lebih awal tanpa penalti, dengan pemberitahuan tertulis 30 hari kalender sebelumnya.

Baca Juga: Sentimen Global Pengaruhi Yield SUN, Ini Proyeksi dan Seri Pilihan Obligasi

DOOH menyebut pencairan tahap awal pinjaman sebanyak-banyaknya Rp 2 triliun akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Adapun perusahaan ini belum memiliki rencana definitif untuk menarik sisa plafon sebesar Rp 3 triliun.

Manajemen menilai fasilitas tersebut menawarkan biaya pendanaan yang relatif kompetitif. Bunga 7,5% per tahun berada di bawah rata-rata bunga kredit investasi bank pemerintah per Juni 2026 sebesar 8,08%, serta lebih rendah dibandingkan kupon obligasi INET yang disebut sebesar 9% dan 10,25%.

Kewajaran transaksi pinjaman tersebut telah dinilai oleh KJPP Toha, Okky, Heru & Rekan dengan kesimpulan wajar. Meski demikian, karena SII merupakan pemegang saham pengendali DOOH, transaksi tersebut termasuk transaksi afiliasi. Persetujuan atas pencairan pinjaman akan dimintakan kepada pemegang saham independen dalam RUPSLB sesuai ketentuan yang berlaku.

Perusahaan ini berharap pelunasan pinjaman menggunakan dana rights issue dapat mengurangi kewajiban dan beban bunga. Besaran pelunasan nantinya akan disesuaikan dengan saldo pokok pinjaman yang telah dicairkan saat dana hasil rights issue diterima.

Bidik bisnis infrastruktur AI melalui akuisisi INET

Di sisi ekspansi, DOOH menyiapkan investasi pada INET melalui CNI dengan mengambil alih 6,685 miliar saham atau setara 29,88% dari modal ditempatkan dan disetor INET.

DOOH telah mendirikan CNI dengan kepemilikan 99,99% sebagai kendaraan investasi untuk menjalankan transaksi tersebut. Akuisisi ini diharapkan membuka akses terhadap bisnis penyedia layanan internet, jaringan telekomunikasi, pengolahan data, dan platform digital milik INET beserta entitas anaknya.

Menurut Devi, kepemilikan pada INET dapat menjadi langkah awal untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan dalam pengembangan ekosistem AI. Pembangunan pusat data, misalnya, membutuhkan waktu dan biaya besar sehingga akses terhadap perusahaan yang telah memiliki aset serta kemampuan operasional dapat mendukung percepatan ekspansi.

Namun, kepemilikan 29,88% melalui CNI tidak menjadikan DOOH sebagai pengendali INET. Posisi pengendali INET tetap dipegang PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara dengan kepemilikan 29,89%.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,26% ke Rp 17.950 per Dolar AS pada Kamis (15/10) Pagi

Dengan demikian, investasi tersebut akan dicatat sebagai investasi pada entitas asosiasi. Pendapatan INET tidak akan dikonsolidasikan ke dalam pendapatan DOOH. Kinerja keuangan SSPACE akan dipengaruhi oleh bagian laba atau rugi INET sesuai porsi kepemilikan, serta beban bunga dari pinjaman yang digunakan untuk membiayai akuisisi.

Selain melalui investasi di INET, DOOH merancang pengembangan ekosistem AI yang mencakup lima pilar, yakni pusat data AI (Data Centre AI), konektivitas berkecepatan tinggi (High Speed Connectivity), jaringan serat optik darat (Inland Fiber Optic Backbone), jaringan serat optik bawah laut (Submarine Fiber Optic Backbone), serta energi hijau melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Kelima pilar tersebut dirancang saling melengkapi. Pusat data menjadi fasilitas komputasi dan penyimpanan data, sedangkan konektivitas dan jaringan serat optik menghubungkan pusat data dengan pengguna di dalam maupun luar negeri. Sementara itu, energi hijau disiapkan untuk mendukung kebutuhan listrik infrastruktur tersebut.

Pengembangan akan dilakukan secara bertahap, baik secara langsung maupun melalui entitas anak, dengan memanfaatkan belanja modal, modal kerja, dan investasi anorganik.

Nasib bisnis periklanan

Transformasi DOOH tidak hanya menyasar ekspansi ke infrastruktur digital, tetapi juga perubahan struktur bisnis. Perusahaan ini berencana mengalihkan kegiatan operasional periklanan kepada anak usaha, PT Media Sejahtera Selaras (MSS), yang 99% sahamnya dimiliki DOOH.

Dengan perubahan tersebut, DOOH akan lebih berfokus sebagai perusahaan induk melalui penambahan kegiatan usaha aktivitas perusahaan induk. Menurut Devi, nantinya bisnis DOOH mencakup perencanaan strategis, pengelolaan keuangan, investasi, pengembangan bisnis, manajemen risiko, kepatuhan, tata kelola, serta pemantauan kinerja entitas anak dan investasinya.

Sejalan dengan perubahan model bisnis, kebutuhan sumber daya manusia juga akan bergeser dari tenaga operasional periklanan menuju kompetensi yang mendukung pengelolaan investasi dan perusahaan induk.

Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah pada Kamis (15/10/2026) Pagi, MAPI, GOTO, WIFI Top Losers LQ45

Untuk kemampuan teknis di bidang infrastruktur digital, DOOH berencana mengandalkan investasi pada entitas yang telah memiliki aset dan kemampuan operasional, disertai perekrutan tenaga ahli atau kemitraan sesuai tahap pengembangan usaha.

Berdasarkan studi kelayakan, sumber pendapatan utama DOOH sebagai perusahaan induk diproyeksikan berasal dari dividen MSS, dengan asumsi rasio pembayaran dividen sebesar 50% dari laba bersih tahun sebelumnya.

Kinerja konsolidasian DOOH juga akan dipengaruhi oleh pendapatan dan laba entitas anak yang dikonsolidasikan serta bagian laba dari investasi pada entitas asosiasi, termasuk INET.

DOOH juga menyatakan akan mengembangkan sinergi dengan SII secara bertahap. Sejak menjadi pemegang saham pengendali pada 30 Juli 2026, sinergi yang telah dilakukan mencakup penetapan arah strategis baru, dukungan pendanaan melalui fasilitas pinjaman pemegang saham, serta fasilitasi akses terhadap peluang investasi di sektor infrastruktur digital.

Sementara itu, transfer teknologi, akses pasar, rantai pasok, serta kerja sama riset dan pengembangan belum menjadi kesepakatan definitif. Perusahaan ini menyebut bentuk-bentuk sinergi tersebut akan dikembangkan seiring pelaksanaan rencana usaha.

Berbagai rencana strategis tersebut, masih harus melalui tahapan persetujuan pemegang saham dan regulator. DOOH menjadwalkan RUPSLB pada 9 November 2026 untuk membahas sejumlah agenda, termasuk perubahan nama perusahaan, perubahan tempat kedudukan, perubahan susunan Direksi dan/atau Dewan Komisaris, penyesuaian kegiatan usaha, peningkatan modal dasar, rights issue beserta Waran Seri II, pencairan pinjaman dari SII sebanyak-banyaknya Rp 2 triliun, serta akuisisi saham INET melalui CNI.

Setelah memperoleh persetujuan RUPSLB, perusahaan berencana menyampaikan pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendukung kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pelaksanaan rights issue selanjutnya bergantung pada perolehan pernyataan efektif dan ketentuan final yang akan dicantumkan dalam prospektus.

Baca Juga: DOOH Siapkan Aksi Korporasi Rp2 Triliun, Ini Dampaknya Menurut Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News