DOOH Siapkan Aksi Korporasi Rp2 Triliun, Ini Dampaknya Menurut Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) tengah memperluas bisnis ke sektor infrastruktur digital dan artificial intelligence (AI) melalui serangkaian aksi korporasi dengan nilai sekitar Rp2 triliun.

Salah satu rencana tersebut adalah akuisisi 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Untuk mendukung ekspansi tersebut, DOOH menyiapkan sejumlah skema pendanaan, termasuk fasilitas pinjaman dari pemegang saham pengendali.

Rangkaian aksi korporasi tersebut dinilai cukup agresif karena dilakukan bersamaan dengan upaya DOOH mengembangkan bisnis di luar digital advertising.


Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta menilai langkah tersebut dapat dipandang sebagai upaya DOOH memperkuat posisi di ekosistem infrastruktur digital, terutama pada segmen konektivitas, fiber optik, data center, serta pengembangan infrastruktur berbasis AI.

Baca Juga: Saiko Consultancy Siapkan Rp 87,68 Miliar, Tender Wajib 45,84% Saham Hassana (NAYZ)

Namun, besarnya nilai transaksi dibandingkan dengan skala neraca DOOH saat ini membuat struktur pendanaan dan kebutuhan modal menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Kemampuan manajemen dalam mengeksekusi seluruh rencana secara bertahap dan efisien juga menjadi faktor penting.

Di sisi lain, rencana akuisisi 29,88% saham INET perlu dilihat berdasarkan struktur kepemilikan dan dampaknya terhadap laporan keuangan DOOH.

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi mengatakan, dengan kepemilikan tersebut DOOH tidak memiliki kendali atas INET sehingga pendapatan INET tidak dikonsolidasikan ke laporan keuangan DOOH.

DOOH lebih berpotensi mencatatkan bagian laba atau rugi INET sebagai entitas asosiasi sesuai dengan metode akuntansi yang berlaku.

"Jadi dampak ke pendapatan DOOH nihil, sementara dampak ke laba terbatas," jelas Wafi.

Menurutnya, kepemilikan 29,88% tersebut juga berada di bawah ambang 30% yang berkaitan dengan kewajiban penawaran tender wajib. Karena itu, struktur transaksi tersebut perlu dicermati dari sisi tata kelola dan ketentuan pasar modal yang berlaku.

Sementara itu, Nafan menilai akuisisi INET tetap berpotensi memperluas eksposur DOOH dari bisnis digital advertising menuju sektor infrastruktur digital.

Kontribusi terhadap kinerja perusahaan akan bergantung pada kinerja INET, struktur kepemilikan, tingkat pengaruh DOOH terhadap INET, serta kemampuan menciptakan sinergi dengan rencana pengembangan data center dan ekosistem AI.

Baca Juga: Rupiah Terancam Melemah ke Rp18.200, 5 Indikator Ini Jadi Kunci

Meski demikian, kontribusi tersebut tidak serta-merta terlihat setelah transaksi rampung. Peningkatan kinerja akan bergantung pada peningkatan utilisasi aset dan realisasi proyek yang dikembangkan.

Wafi menambahkan, kontribusi yang lebih realistis bagi DOOH justru dapat berasal dari sinergi operasional. Namun, sinergi tersebut membutuhkan waktu, sementara bisnis penyedia internet memiliki karakter padat modal dengan margin yang relatif terbatas.

Dari sisi risiko, kedua analis menyoroti kebutuhan pendanaan dan kemampuan DOOH dalam mengeksekusi ekspansi.

Nafan mengatakan perusahaan perlu memperhatikan potensi peningkatan leverage, risiko dilusi akibat rights issue, biaya integrasi, depresiasi aset, serta beban pendanaan.

"Keberhasilannya sangat bergantung pada disiplin penggunaan modal, kualitas aset yang diakuisisi, pipeline proyek, serta kemampuan manajemen mengubah ekspansi tersebut menjadi pertumbuhan pendapatan, laba, dan arus kas yang berkelanjutan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News