Dorong Ekosistem Perumahan, Bank Genjot Penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP)



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah bank besar terus memperkuat penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem perumahan dan ekonomi rakyat.

Seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN) yang mencatat, sejak KPP diluncurkan, penyaluran pembiayaan secara kumulatif telah mencapai Rp7,4 triliun.

Angka tersebut terdiri dari KPP Supply sebesar Rp 5,4 triliun dan KPP Demand sebesar Rp 2 triliun.


Direktur Corporate Banking BTN Helmy Afrisa mengatakan, KPP memiliki peran strategis karena pembiayaan menyasar dua sisi ekosistem perumahan, yakni pelaku usaha yang menyediakan rumah serta masyarakat produktif yang membutuhkan pembiayaan perumahan.

Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 17,77 Triliun hingga Mei 2026

“Melalui KPP Supply dan KPP Demand, BTN berupaya memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan. Kami ingin program ini tidak hanya mendorong penyediaan hunian, tetapi juga meningkatkan produktivitas pelaku usaha dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Helmy di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada sisi supply, KPP dapat dimanfaatkan oleh pengembang, kontraktor, hingga pedagang bahan bangunan dengan plafon kredit mencapai Rp 5 miliar.

Sementara itu, KPP Demand menyediakan pembiayaan hingga Rp 500 juta bagi UMKM perorangan untuk membeli, membangun, maupun merenovasi rumah yang digunakan untuk mendukung kegiatan usaha.

Potensi penyaluran KPP juga masih terbuka. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, BTN mencatat terdapat 353 peminatan dengan total plafon Rp 424,944 miliar.

Rinciannya, sebanyak 57 peminatan KPP Supply dengan nilai Rp288,970 miliar dan 296 peminatan KPP Demand senilai Rp135,974 miliar.

Baca Juga: BTN Genjot Penyaluran KPP, Realisasi Capai Rp 7,4 Triliun

“Besarnya peminatan menunjukkan kebutuhan pembiayaan perumahan datang dari berbagai sisi. Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, developer, kontraktor, toko bahan bangunan, dan pelaku UMKM agar manfaat KPP dapat menjangkau semakin banyak masyarakat,” kata Helmy.

Menurut dia, penguatan KPP juga menjadi bagian dari strategi BTN dalam memanfaatkan ekosistem perumahan untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

Bagi masyarakat produktif, rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi tempat usaha sekaligus aset yang mendukung peningkatan pendapatan keluarga.

“Karena itu, kami ingin pembiayaan perumahan turut menciptakan kegiatan usaha, meningkatkan produktivitas, dan mendorong kesejahteraan masyarakat,” tutur Helmy.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatat penyaluran KPP yang cukup besar. Hingga 8 September 2026, BRI telah menyalurkan KPP sebesar Rp 12 triliun kepada 83.210 debitur.

Baca Juga: BTN Perkuat KPR Subsidi, Keterhunian Rumah FLPP Jambi Capai 95,07%

BRI juga mencatat penyaluran KPP senilai Rp 427,5 miliar kepada 1.619 debitur. Penyaluran tersebut terdiri dari pembiayaan sisi supply sebesar Rp 242,5 miliar kepada 110 debitur. 

Rinciannya, pembiayaan kepada pengembang mencapai Rp73,6 miliar untuk 29 debitur, toko bahan bangunan Rp 39,8 miliar untuk 23 debitur, serta kontraktor perumahan Rp129,1 miliar untuk 58 debitur.