Dorong pertumbuhan ekonomi, China pangkas suku bunga pinjaman satu tahun jadi 4,20%



KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. China memangkas suku bunga pinjaman satu tahun dalam dua bulan berturut-turut lantaran bank sentral berupaya untuk menekan suku bunga demi menjaga perekonomian yang terdampak perang dagang Amerika Serikat-China.

Mengutip Reuters, Jumat (20/9) China memangkas suku bunga pinjaman untuk satu tahun, tetapi tidak menurunkan suku bunga acuan untuk lima tahun. Menurut analis, hal ini mencerminkan kekhawatiran para pembuat kebijakan bahwa suku bnga rendah dalam jangka panjang dapat mencerminkan gelembung (bubble) properti.

Pemangkasan suku bunga loan prime rate (LPR) satu tahun menjadi 4,20% dilakukan setelah People's Bank of China (PBOC) menurunkan persyaratan cadangan bank pada Senin lalu. Keputusan ini juga datang tak lama pasca The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.


Baca Juga: China keeps 1-year money market rate unchanged but easing still likely

LPR satu tahun turun menjadi 4,20% pada Jumat (20/9) lebih rendah dari sebulan sebelumnya yang sebesar 4,25%. Sementara LPR untuk tenor lima tahun tetap di kisaran 4,85%.

"PBOC sedang bereksperimen dengan sistem baru ini. mereka menurunkan suku bunga secara bertahap dan mencoba mengukur dampak dan melihat hasil aliran dananya," kata Kiyoshi Ishigane, Kepala Fund Manager Mitsubishi UFJ Kokusai Asset Management Tokyo seperti dikutip Reuters.

Iris Pang, ekonomi Greater China untuk ING di Hong Kong mengatakan langkah ini bukan cerita stimulasi pertumbuhan. "Saya pikir ini lebih merupakan kisah perlindungan, agar tidak jatuh ke kisaran pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah. Lebih banyak untuk menurunkan biaya bunga untuk produksi dan infrastruktur," katanya.

Dengan LPR yang lebih rendah, artinya biaya pinjaman akan lebih rendah bagi perusahaan dan konsumen di tengah perlambatan ekonomi.

Baca Juga: China melakukan lebih banyak aksi untuk mendorong ekonominya yang melambat

Asal tahu saja, ekonomi China tumbuh 6,2% pada kuartal II-2019 yang merupakan laju paling lambat selama hampir tiga dekade. Sementara data produksi, konsumsi dan investasi industri yang lemah pada Agustus menunjukkan adanya perlambatan ekonomi yang semakin dalam.

Awal pekan ini, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan sangat sulit bagi ekonomi China untuk tumbuh 6% atau lebih.

Editor: Herlina Kartika Dewi