KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026), meski investor kembali dihadapkan pada meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penopang sentimen, mengimbangi kekhawatiran terhadap inflasi dan arah suku bunga. Ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian utama setelah serangkaian serangan terbaru antara AS dan Iran mengakhiri ketenangan yang sempat berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Bentrokan tersebut merupakan pertukaran serangan terbesar antara kedua negara sejak Juli dan memicu kekhawatiran konflik dapat meluas ke kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut juga kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi, terutama jika gangguan geopolitik berdampak terhadap harga energi dan rantai pasokan global.
Baca Juga: Kinerja Reksadana Menguat di Agustus 2026, Investor Pantau Dampak RAPBN 2027 Namun, pasar saham masih mendapatkan dukungan dari kuatnya perdagangan saham yang berkaitan dengan AI. Investor menilai ketidakpastian ekonomi dalam skala moderat belum cukup untuk menghentikan momentum saham teknologi. "Ketika berbicara mengenai AI, kita baru berada di ambang. Kita berada di awal dari sebuah revolusi yang sangat signifikan dalam cara teknologi dan data dikelola," kata Thomas Kikis, Head of Markets, U.S. and the Americas di Standard Chartered. Pada pukul 20.56 WIB, Dow Jones Industrial Average naik 246,01 poin atau 0,47% menjadi 53.012,89. S&P 500 menguat 8,22 poin atau 0,11% ke 7.639,69, sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 14,92 poin atau 0,06% menjadi 26.084,86. Sejumlah saham mencatat pergerakan signifikan. Dell melonjak 6,7% setelah menaikkan proyeksi laba dan pendapatan tahunannya. Saham Brown-Forman, produsen Jack Daniel's, juga naik 4,2% setelah membukukan laba kuartal pertama yang melampaui perkiraan analis. Sementara itu, pergerakan saham kelompok Magnificent Seven cenderung beragam. Nvidia menguat 1,2%, sedangkan Microsoft turun 0,5% dan Tesla melemah 1%.
Imbal Hasil Obligasi Jadi Beban
Di luar risiko geopolitik, pasar saham AS juga masih menghadapi tekanan dari tingginya imbal hasil surat utang pemerintah AS. Imbal hasil Treasury yang dianggap sebagai aset bebas risiko dapat mengurangi daya tarik saham karena investor memperoleh alternatif imbal hasil yang relatif tinggi tanpa harus mengambil risiko tambahan. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun 2 basis poin pada Rabu setelah sempat meningkat pada awal perdagangan. Meski demikian, levelnya masih mendekati posisi tertinggi sejak Januari tahun lalu.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat Jadi Rp 228 Miliar Semester I-2026 "Investor sangat mengkhawatirkan tren kenaikan imbal hasil obligasi global. Akibatnya, mereka mengurangi eksposur terhadap saham, terutama ketika mereka sudah mengantongi keuntungan yang besar," kata Sam Stovall, Chief Investment Strategist CFRA Research. Eskalasi konflik di Timur Tengah juga berpotensi semakin memperumit prospek suku bunga. Dalam sepekan terakhir, pelaku pasar meningkatkan secara tajam taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September setelah Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan pengendalian tekanan harga menjadi fokus utama bank sentral. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 66,2%, melonjak dari sekitar 37% sepekan sebelumnya.
September Jadi Bulan yang Berat
Investor juga harus menghadapi faktor musiman yang cenderung kurang menguntungkan. Berdasarkan data sejak 1926 yang dikutip Fisher Investments dari Finaeon, S&P 500 rata-rata turun 0,7% pada September. September menjadi bulan terlemah bagi saham secara historis sekaligus menjadi satu-satunya bulan yang mencatat rata-rata imbal hasil negatif. Sektor energi yang dalam beberapa sesi terakhir menjadi salah satu sektor yang mampu menguat juga bergerak melemah tipis pada Rabu. Harga minyak mentah Brent menghapus kenaikan yang sempat terjadi pada awal perdagangan. Saham Valero Energy turun 0,3%, sementara Chevron bergerak relatif datar.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat Jadi Rp 228 Miliar Semester I-2026 Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9). Data tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi pergerakan saham dan memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan moneter The Fed. Data inflasi terbaru sendiri masih memberikan sinyal yang beragam, sehingga laporan ketenagakerjaan akan menjadi salah satu indikator penting yang dicermati pasar dalam menentukan arah perdagangan berikutnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News