DP 0% Diperpanjang hingga 2027, Kredit Kendaraan Bermotor Masih Lesu



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perpanjangan kebijakan uang muka atau down payment (DP) 0% untuk pembelian kendaraan bermotor belum mampu membalikkan tren penurunan kredit kendaraan bermotor (KKB) perbankan. Daya beli masyarakat dan keterjangkauan cicilan masih menjadi tantangan bagi pertumbuhan pembiayaan kendaraan.

Berdasarkan Analisis Uang Beredar Bank Indonesia (BI), penyaluran KKB industri perbankan terkontraksi 9,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 127,1 triliun per September 2026. Kontraksi tersebut berlanjut setelah KKB turun 10,3% yoy pada Agustus 2026.

Sebagai informasi, penurunan penyaluran KKB telah berlangsung sejak Oktober 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya mendorong pembiayaan kendaraan masih menghadapi tantangan meskipun regulator memberikan kelonggaran uang muka.


Untuk mendukung pertumbuhan kredit, BI memperpanjang kebijakan uang muka paling sedikit 0% untuk seluruh jenis kendaraan bermotor baru hingga 31 Desember 2027. Sebelumnya, kebijakan tersebut dijadwalkan berakhir pada 31 Desember 2026.

SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai perpanjangan kebijakan tersebut merupakan stimulus positif. Namun, dampaknya terhadap pertumbuhan KKB diperkirakan masih terbatas karena pelemahan pembiayaan kendaraan saat ini lebih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat, keterjangkauan cicilan, serta sikap perbankan yang semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Baca Juga: OJK Catat Segmen Perorangan Dominasi Premi Lanjutan & Produksi Baru di Asuransi Jiwa

“Realisasi ini menunjukkan bila pelonggaran uang muka saja belum cukup untuk memulihkan pertumbuhan KKB, walau kontraksi outstanding tidak serta-merta membuktikan kebijakan tersebut tidak efektif,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (25/10/2026).

Menurut Trioksa, perbankan perlu memperkuat kerja sama dengan produsen kendaraan dan dealer untuk meningkatkan penyaluran KKB. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penawaran bunga kompetitif, subsidi bunga, promosi harga, hingga skema pembiayaan yang disesuaikan dengan kemampuan debitur.

Selain itu, segmen kendaraan dengan harga terjangkau dan kendaraan listrik dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Meski demikian, perbankan tetap perlu memperhatikan kualitas kredit dan risiko gagal bayar dalam memperluas pembiayaan.

Hingga akhir tahun ini, Trioksa melihat peluang perbaikan KKB secara bertahap, terutama jika didukung promosi akhir tahun, peningkatan pendapatan masyarakat, dan penurunan biaya pembiayaan.

Pemulihan diperkirakan lebih dahulu terlihat melalui peningkatan penyaluran kredit baru dan perlambatan kontraksi saldo kredit (outstanding). Setelah itu, KKB berpeluang kembali mencatatkan pertumbuhan positif.

Dengan demikian, kebijakan DP 0% tetap menjadi salah satu faktor pendukung, tetapi bukan satu-satunya penentu pemulihan kredit kendaraan bermotor.

Perbankan Optimistis terhadap Prospek KKB

Dari sisi industri, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih mencermati dampak perpanjangan kebijakan DP 0% terhadap penyaluran kredit kendaraan. Meski begitu, bank swasta tersebut berharap kebijakan regulator dapat memberikan dorongan bagi pertumbuhan KKB.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, dukungan regulator diharapkan mampu mendorong penyaluran kredit kendaraan bermotor di tengah dinamika ekonomi dan industri otomotif.

Hingga Juni 2026, portofolio KKB BCA menyusut 21,5% yoy menjadi Rp 51,3 triliun. Hera menyampaikan bahwa penyaluran KKB akan terus disesuaikan dengan kondisi pasar, kebutuhan nasabah, serta strategi pertumbuhan kredit yang mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Untuk mendorong pembiayaan kendaraan, BCA juga menggelar berbagai kegiatan yang menawarkan solusi keuangan bagi masyarakat. Salah satunya melalui pameran kendaraan secara luring dan daring yang menghadirkan beragam promosi KKB, termasuk penawaran bunga khusus dan potongan biaya administrasi.

“Kami berharap penyelenggaraan pameran dapat berkontribusi meningkatkan volume aplikasi KKB,” ujar Hera.

Baca Juga: Usulan DEN Soal Penyempurnaan Pasal Korupsi Bisa Dorong Investasi Dana Pensiun

Berbeda dengan BCA, PT Bank Maybank Indonesia Tbk masih mencatatkan pertumbuhan positif pada segmen KKB. Hingga Juni 2026, penyaluran KKB Maybank Indonesia tumbuh 6,5% yoy menjadi Rp 25,3 triliun.

Maybank Indonesia menggarap berbagai segmen pasar pembiayaan kendaraan melalui dua anak usahanya, yakni Maybank Finance yang berfokus pada nasabah kelas menengah atas dan WOM Finance yang menyasar nasabah kelas menengah serta segmen pasar massal (mass market).

Bianto mengatakan, kekuatan masing-masing lini bisnis tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan pembiayaan hingga tahun depan. Strategi ini dijalankan melalui kanal distribusi masing-masing perusahaan maupun sinergi dengan grup perbankan.

“Dengan adanya pertumbuhan penjualan mobil dan motor di tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, kami melihat prospek pembiayaan mobil dan motor masih berpeluang meningkat,” tukas Bianto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News