KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Di tengah lesunya penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB), Bank Indonesia (BI) melanjutkan kebijakan uang muka alias down payment (DP) 0% hingga tahun depan. Namun, kebijakan ini tak serta-merta mampu memperbaiki kinerja KKB. Analisis Uang Beredar BI menunjukkan, KKB industri perbankan terkontraksi 9,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 127,1 triliun per September 2026, melanjutkan penurunan 10,3% yoy pada bulan sebelumnya. Asal tahu saja, kontraksi KKB telah berlangsung sejak Oktober 2025 lalu. Untuk mendorong perbaikan kinerja, BI memperpanjang kebijakan DP paling sedikit 0% untuk semua jenis kendaraan bermotor baru hingga akhir tahun depan. Tadinya, kebijakan berlaku sejak ini hanya berlaku hingga 31 Desember 2026.
SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan melihat langkah BI ini sebagai stimulus positif, hanya saja efektivitasnya masih bakal terbatas. Sebab, lesunya KKB saat ini lebih disebabkan daya beli, keterjangkauan cicilan, serta kehati-hatian bank. “Realisasi ini menunjukkan bila pelonggaran uang muka saja belum cukup untuk memulihkan pertumbuhan KKB, walau kontraksi outstanding tidak serta-merta membuktikan kebijakan tersebut tidak efektif,” jelasnya kepada Kontan, Minggu (25/10/2026).
Baca Juga: BI Perpanjang Kebijakan LTV Properti 100% dan DP Kendaraan 0% hingga 2027 Untuk mendorong pertumbuhan KKB, menurut Trioksa, perbankan perlu mengoptimalkan kerja sama dengan produsen dan dealer melalui bunga kompetitif, subsidi bunga, promosi harga, serta skema pembiayaan yang disesuaikan dengan kemampuan debitur. Ia melihat segmen kendaraan dengan harga terjangkau dan kendaraan listrik dapat menjadi peluang pertumbuhan, dengan tetap memperhatikan risiko kredit. Hingga akhir ini, KKB masih berpeluang membaik secara bertahap, terutama didukung promosi akhir tahun, perbaikan pendapatan masyarakat, dan penurunan biaya pembiayaan. Pemulihan kemungkinan lebih dahulu terlihat pada peningkatan kredit baru dan perlambatan kontraksi outstanding sebelum kembali mencatatkan pertumbuhan positif. Secara umum Trioksa bilang kebijakan DP 0% hanya faktor pendukung. Perbankan Optimistis Dari sudut pandang pelaku industri, Bank Central Asia (BCA) masih mencermati dampak perpanjangan kebijakan ini. Namun secara umum, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn bilang pihaknya berharap dukungan regulator ini dapat mendorong penyaluran KKB. Hingga Juni 2026, portofolio KKB BCA susut 21,5% yoy menjadi Rp 51,3 triliun. Di tengah dinamika kondisi ekonomi dan industri, Hera mengatakan penyaluran KKB bakal terus disesuaikan dengan kondisi pasar, kebutuhan nasabah, serta strategi pertumbuhan kredit yang prudent. Untuk tetap mendorong penyaluran KKB, BCA menyelenggarakan sejumlah aktivitas untuk memberikan solusi keuangan yang komprehensif bagi masyarakat. Terbaru, BCA menggelar pameran secara offline dan online yang menawarkan sejumlah promo terkait KKB, termasuk bunga khusus dan potongan biaya admin.
Baca Juga: Kredit Kendaraan Bermotor Masih Tertekan, Bank Mulai Andalkan Strategi Cross-Selling “Kami berharap penyelenggaraan pameran dapat berkontribusi meningkatkan volume aplikasi KKB,” ujar Hera. Sementara itu, Maybank Indonesia masih optimistis melihat prospek KKB. Memang, hingga Juni 2026, KKB Maybank Indonesia masih tumbuh 6,5% yoy menjadi Rp 25,3 triliun. Secara umum, Maybank Indonesia mendorong penyaluran KKB ke beragam segmen pasar melalui dua anak usahanya, yakni Maybank Finance yang fokus ke nasabah kelas menengah ke atas dan WOM Finance yang fokus ke nasabah kelas menengah dan mass market.
Bianto mengatakan keandalan masing-masing lini bisnis ini diharapkan dapat turut mendorong pertumbuhan yang kuat hingga tahun depan, baik melalui kanal distribusinya sendiri maupun melalui sinergi dengan konglomerasi bank. “Dengan adanya pertumbuhan penjualan mobil dan motor di tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, kami melihat prospek pembiayaan mobil dan motor masih berpeluang meningkat,” tukas Bianto.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Kendaraan Bermotor Bisa Makin Terseok Imbas Kenaikan BI Rate Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News