KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Akhir tahun 2025, penjaringan dana pihak ketiga (DPK) bank-bank kecil terpantau lesu seiring terbatasnya penyaluran kredit. Kendati begitu, bank berupaya menggenjot kinerja yang lebih baik pada 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah DPK bank dari kelompok bank bermodal inti (KBMI) IV berhasil tumbuh 12,01% secara tahunan menjadi Rp 5.093 triliun hingga Oktober 2025. Pun, KBMI III berhasil tumbuh 24% secara tahunan menjadi Rp 2.661 triliun. Namun, KBMI II dan KBMI I justru kompak turun, masing-masing sebesar 2,60% secara tahunan menjadi Rp 1.048 triliun dan 2,96% secara tahunan menjadi Rp 950 triliun.
Pada bank tertentu, tren tersebut berlanjut hingga bulan setelahnya. Misal, PT Bank Sahabat Sampoerna yang total DPK-nya turun tipis menjadi Rp 13,51 triliun per November 2025 dari posisi Rp 13,61 triliun pada November 2024.
Baca Juga: OJK: Penyusunan Roadmap Bullion Masih Tahap Finalisasi Direktur Finance and Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra menjelaskan, penurunan tersebut sejalan dengan strategi bank dalam menghimpun DPK secara proporsional, optimal, dan seimbang dengan penyaluran kredit. Memang, sejalan dengan penurunan DPK, penyaluran kredit juga turun dari Rp 12,42 triliun pada November 2024 menjadi Rp 11,20 triliun pada November 2025. Soal itu, Henky bilang kondisi perekonomian nasional menjadi sentimen utama. “Terlebih lagi pada sektor UMKM yang menjadi fokus utama bank kami,” kata Henky kepada Kontan, Selasa (13/1/2026). Namun begitu, Henky memastikan bank tetap berusaha menyalurkan dana kepada masyarakat sambil menerapkan prinsip kehati-hatian serta pemberian kredit yang sehat. Pada tahun 2026 pun, bank menargetkan penjaringan DPK dan penyaluran kredit bisa lebih tinggi dari hasil 2025. Sementara itu, PT Bank Neo Commerce Tbk berhasil menumbuhkan DPK-nya setelah sempat turun pada Oktober 2025. Pada November 2025, DPK bank naik jadi Rp 14,02 triliun dari posisi Rp 13,30 triliun pada November 2024. Namun, penyaluran kredit Bank Neo Commerce menurun dari Rp 8,48 triliun pada November 2024 menjadi Rp 7,06 triliun pada November 2025. Direktur Utama Bank Neo Eri Budiono menjelaskan, secara garis besar bank tetap berfokus mendorong nasabah melakukan transaksi untuk memperkuat loyalitas nasabah dan meningkatkan pendapatan nonbunga alias fee based income. Bank juga terus melakukan penyesuaian suku bunga DPK. “Mengikuti likuiditas bank dan kondisi pasar,” kata Eri. Sepanjang tahun 2026 ini, pihaknya masih bakal mempromosikan kemampuan transaksi dan produk-produk baru untuk menjaga likuiditas. PT Bank Oke Indonesia (OK Bank) malah menutup tahun 2025 dengan hasil positif. Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah mengungkapkan, DPK bank hingga akhir tahun berhasil tumbuh 19% secara tahunan.
Baca Juga: Kredit UMKM Masih Lesu, Bank Hati-hati Bidik Kredit Baru di 2026 Padahal, sepanjang tahun 2025 OK Bank juga melakukan penyesuaian suku bunga DPK, utamanya pada produk deposito, sesuai dengan tren BI rate dan strategi pengelolaan biaya dana. Sejalan dengan itu, penyaluran kredit berhasil tumbuh 15% secara tahunan. “Melampaui target RBB yang ditetapkan 9%,” ungkap Efdinal. OK Bank menargetkan pertumbuhan DPK kisaran 8% pada 2026. Untuk mencapainya, bank menyiapkan strategi penguatan dana murah melalui loyalty program, bundling produk, serta optimalisasi akuisisi dana ritel dan payroll. Untuk kredit, Efdinal bilang pihaknya memasang target pertumbuhan kisaran 9,5% pada akhir tahun 2026. Target itu dipasang sejalan dengan potensi pelonggaran BI Rate dan membaiknya prospek perekonomian.
“Strategi yang ditempuh mencakup fokus pada kualitas aset, penyaluran kredit secara selektif pada sektor-sektor yang dinilai resilient, serta penguatan proses underwriting dan monitoring portofolio,” jelas Efdinal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News