DPR usul listrik di bandara memakai outsourcing



JAKARTA. Komisi XI DPR mengusulkan PT Angkasa Pura (AP) II menggunakan jasa outsourcing dalam penggunaan sumber listrik di bandara. Tujuannya, agar pengelolaan listrik lebih murah dan efektif. Saat ini, listrik di bandara masih dipasok dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tak hanya itu, ke depan AP juga akan menggunakan jasa PLN untuk mengelola listrik di bandara. "Sistem ini sepertinya tidak efektif dan berbiaya mahal," kata Nurdin Tampubolon, Wakil Ketua Komisi VI DPR saat memimpin rapat kerja dengan AP II dan PLN, Kamis (26/8). Selain itu, hal itu juga menambah beban PLN. Gambaran saja, untuk Bandara Soekarno-Hatta dipasok listrik berkekuatan 30 Mega Volt Ampere (MVA). Itu menggunakan dua travo di Gardu Induk Cengkareng. "Beban ini cukup besar bagi PLN," kata Nurdin. Makanya, Komisi VI mengusulkan agar AP II menggunakan listrik dari outsourcing saja. Nantinya, pengelolaannya akan lebih bagus dan terjamin. "Biayanya pasti juga lebih murah daripada harus membeli listrik dari PLN dan membayar jasa pengelolaannya juga," terang Nurdin. Direktur Utama AP II, Tri S Sunoko pun menyambut baik usulan tersebut. Ia juga menganggap, listrik outsourcing memerlukan biaya yang lebih murah dari PLN. "Listrik outsourcing juga lebih kompeten," kata Tri. Namun, Sunoko berpikir harus membuat perhitungan dulu untuk melihat seberapa besar biaya masing-masing usulan. "Usulan ini akan kami pertimbangkan," kata Tri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Djumyati P.