KONTAN.CO.ID - Perjalanan yang awalnya dipromosikan sebagai petualangan lintas Atlantik menuju pulau-pulau paling terpencil di dunia, kini berubah menjadi mimpi buruk. Kapal ekspedisi berbendera Belanda MV Hondius yang dilanda wabah hantavirus terpaksa terdampar di lepas pantai Cape Verde, dengan para penumpang terkurung di kabin, tenaga medis mengenakan pakaian pelindung menangani pasien, sementara operator kapal mencari pelabuhan aman. Wabah ini telah menyebabkan tiga orang meninggal serta delapan kasus terkonfirmasi atau diduga terkait dengan kapal ekspedisi tersebut. Sebagian penumpang yang sudah berada di kapal sejak 20 Maret melaporkan suasana hati yang berubah-ubah antara rasa takut dan kebosanan. Ruang santai kosong, dek kapal sepi, penumpang hanya ditemani minuman hangat, masker, pemeriksaan medis rutin, serta ketidakpastian kapan dan bagaimana perjalanan mereka akan berakhir.
Melansir
Reuters, pada Rabu (6/5), tim medis khusus mengevakuasi tiga orang, sementara kapal bersiap memperpanjang pelayaran menuju Kepulauan Canary, Spanyol, setelah memperoleh persetujuan dari otoritas setempat. Setelah empat hari berlabuh di perairan dekat kepulauan Afrika Barat itu, kapal akhirnya berlayar pada Rabu malam menuju pulau Tenerife, di mana sekitar 150 penumpang dan awak kapal yang tersisa kemungkinan bisa turun dengan pengawasan medis. Namun belum jelas apakah mereka akan dikarantina setibanya di sana.
Dikurung di Kabin
Operator kapal pesiar ekspedisi, Oceanwide Expeditions, meminta penumpang mengikuti “langkah isolasi, protokol kebersihan, dan pemantauan medis.” Dokter asal Swedia Martin Kriz, yang bertugas di kapal Hondius, mengatakan aturan tersebut berarti penumpang harus makan di kabin sempit yang ditempati empat orang. “Ruangnya cukup kecil,” kata Kriz kepada
Reuters. Baca Juga: Inflasi AS Terancam Panas Lagi, The Fed Mulai Bahas Peluang Kenaikan Suku Bunga Meski begitu, sejumlah penumpang menyebut kondisi di kapal masih cukup baik. Penumpang bernama Kasem Hato mengatakan suasana tetap tenang. “Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tanpa panik, berusaha menjaga jarak dan memakai masker agar aman,” katanya kepada Reuters. Ia menambahkan hari-hari mereka berjalan hampir normal, hanya menunggu otoritas menemukan solusi. Moral di kapal disebut tetap tinggi, dengan penumpang mengisi waktu dengan membaca, menonton film, dan menikmati minuman hangat. Sebuah video memperlihatkan ruang lounge kapal yang dilapisi panel kayu tampak bersih, mewah, namun kosong. Kursi-kursi dan sofa tersusun di atas karpet berwarna, dengan pemandangan laut terlihat dari jendela. Foto yang diunggah di media sosial dan ditinjau Reuters menunjukkan kantong-kantong besar berisi suplai dikirim ke dek kapal oleh pekerja yang mengenakan pakaian medis dan masker. Situasi ini sangat kontras dengan foto-foto panorama Antartika yang sebelumnya dibagikan para penumpang selama perjalanan.
Baca Juga: Iran Tinjau Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Teluk Menguat Ada yang Panik, Ada yang Kritik
Warga Amerika Serikat bernama Jake Rosmarin menjadi salah satu sosok yang paling dikenal setelah mengunggah video emosional dari kabinnya di Instagram, mengeluhkan ketidakpastian yang dihadapi penumpang. Namun kemudian ia mengunggah pernyataan yang lebih tenang.
“Saya merasa baik-baik saja, bisa menghirup udara segar, dan kru tetap memberi makan serta menjaga kami dengan baik,” katanya dalam unggahan lanjutan. Berbeda dengan itu, YouTuber asal Turki Ruhi Cenet, yang sudah turun dari kapal di Saint Helena pada 24 April, menyampaikan kritik. Ia mengatakan setelah penumpang pertama meninggal pada 11 April, para penumpang diberi tahu bahwa korban tidak menular, sehingga mereka tetap bersosialisasi dan makan bersama. Menurutnya, jika langkah isolasi dilakukan lebih cepat, masalah ini bisa lebih kecil dan tidak menyebar luas. Oceanwide dalam pernyataan pada Rabu membantah tudingan tersebut. Mereka mengatakan informasi yang disampaikan kapten kapal akurat pada saat itu, dan prosedur kesehatan serta keselamatan telah dijalankan sesuai standar setelah terjadi kematian di laut.