KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sebuah drone laut menghantam kapal tanker minyak mentah yang berangkat dari Rusia, memicu ledakan di Laut Hitam dekat Selat Bosphorus pada Kamis (26/3/2026). Insiden ini menambah daftar serangan terhadap kapal terkait Rusia di tengah konflik berkepanjangan di kawasan tersebut. Menteri Transportasi Turki Abdulkadir Uraloglu mengatakan insiden terjadi pada dini hari dan melibatkan kapal tanker Altura yang berada sekitar 18 mil laut (33 km) dari Bosphorus, jalur penting pengiriman komoditas yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara dan Mediterania. Seluruh 27 awak kapal dilaporkan selamat. Otoritas penjaga pantai Turki segera dikerahkan ke lokasi untuk memberikan bantuan.
Diduga Targetkan Ruang Mesin
Menurut Uraloglu, serangan tersebut kemungkinan ditujukan untuk melumpuhkan ruang mesin kapal berbendera Sierra Leone yang membawa minyak Rusia. Data pelacakan kapal menunjukkan tanker tersebut baru berangkat dari pelabuhan Novorossiysk dengan muatan sekitar 1 juta barel minyak mentah dan dalam kondisi hampir penuh.
Baca Juga: Trump Akan Temui Xi Jinping di Beijing Mei 2026, Ini yang Dibahas Kapal tersebut diketahui berada dalam daftar sanksi Uni Eropa dan Inggris, seiring upaya Barat membatasi ekspor energi Rusia.
Risiko Keamanan Laut Hitam Meningkat
Laut Hitam merupakan kawasan strategis yang berbatasan dengan Rusia dan Ukraina, yang telah berperang selama lebih dari empat tahun. Dalam beberapa bulan terakhir, serangan menggunakan drone laut terhadap kapal tanker meningkat, terutama yang menuju atau berasal dari pelabuhan Rusia. Kementerian Pertahanan Turki menyatakan terus memantau risiko yang ditimbulkan oleh penggunaan drone di kawasan tersebut. Risiko yang dimaksud termasuk kemungkinan drone kehilangan kendali dan hanyut menuju wilayah pesisir Turki. Turki juga menegaskan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga keselamatan navigasi di Laut Hitam. Kapal-kapal angkatan laut Turki dikerahkan untuk berpatroli guna mencegah kerusakan terhadap kapal maupun korban sipil.
Dampak terhadap Industri Pelayaran
Ketegangan di Laut Hitam sebelumnya telah mendorong kenaikan premi asuransi pengiriman setelah serangan drone Ukraina terhadap tanker yang menuju Rusia. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku industri terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Pemerintah Turki juga telah memperingatkan Ukraina dan Rusia agar tidak melakukan serangan di dekat wilayah perairannya, mengingat potensi eskalasi yang dapat berdampak langsung pada keamanan regional.
Baca Juga: Futures Saham AS Melemah, Prospek Meredanya Konflik Timur Tengah Masih Buram Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Rusia maupun Ukraina terkait insiden terbaru ini.
Kepemilikan Kapal
Berdasarkan data Refinitiv, kapal tanker yang diserang dimiliki oleh perusahaan berbasis China, Sea Grace Shipping Ltd, dan dikelola oleh perusahaan Turki, Pergamon Denizcilik. Sebelumnya, media lokal melaporkan terjadi ledakan di anjungan kapal serta masuknya air ke ruang mesin sebelum awak meminta bantuan kepada otoritas Turki. Insiden ini kembali menegaskan meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran strategis global, khususnya di kawasan Laut Hitam yang menjadi salah satu titik krusial perdagangan energi dunia.