Drone Serang Arab Saudi, Yordania, dan Irak Setelah AS Hentikan Serangan ke Iran



KONTAN.CO.ID - Ketegangan di Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda meski Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran pada akhir pekan lalu.

Pada Senin (27/7/2026), Arab Saudi, Yordania, dan Irak melaporkan serangkaian serangan drone yang memperlihatkan rapuhnya jeda konflik antara Washington dan Teheran.

Baca Juga: Netanyahu Bertolak ke Washington, Bahas Iran dan Perdamaian Timur Tengah dengan Trump


Mengutip Reuters, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone yang mengarah ke fasilitas perminyakan di Provinsi Timur serta ibu kota Riyadh.

Riyadh menuding drone tersebut diluncurkan oleh milisi yang didukung Iran dari wilayah Irak dan menyatakan berhak mengambil tindakan balasan.

Secara terpisah, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengaku menargetkan jalur transportasi minyak menuju pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah sebagai balasan atas dugaan serangan drone Arab Saudi ke wilayah udara Yaman.

Sementara itu, Yordania mengumumkan telah menembak jatuh dua drone, sedangkan sumber keamanan Irak melaporkan serangan drone terhadap kamp-kamp yang menampung kelompok oposisi Kurdi Iran di wilayah utara negara tersebut. Hingga kini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Wilayah Yordania dan Irak utara sebelumnya menjadi lokasi tewasnya empat personel militer AS selama kampanye serangan udara Washington terhadap Iran yang berlangsung selama dua pekan.

Baca Juga: Presiden FIFA Balas Kritik Piala Dunia: Kalian Terlalu Sibuk Membenci

Iran belum ingin kembali berunding

Iran sebelumnya menyatakan akan menghentikan serangannya selama AS tetap mempertahankan penghentian operasi militernya.

Namun, Teheran juga menegaskan masih menguasai Selat Hormuz dan belum berniat kembali ke meja perundingan dengan Washington.

Presiden AS Donald Trump menghentikan kampanye pengeboman selama 13 hari berturut-turut setelah mendapat rekomendasi dari petinggi militer bahwa operasi tersebut telah mencapai batas efektivitasnya.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa para komandan militer menilai target serangan semakin terbatas.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine juga disebut mengkhawatirkan menipisnya persediaan amunisi sistem pertahanan udara yang digunakan untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan.

Keputusan Trump menghentikan serangan membuat harga minyak dunia langsung merosot.

Minyak mentah Brent yang pekan lalu sempat menembus US$ 100 per barel turun sekitar 6,5% pada Senin dan diperdagangkan sedikit di atas US$ 90 per barel, setelah sempat menyentuh level US$ 87,55.

Baca Juga: Audi Pangkas Proyeksi, Lesunya China Tekan Kinerja

Iran bantah meminta negosiasi

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan penghentian serangan dimaksudkan untuk membuka ruang diplomasi.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah bahwa negaranya meminta dimulainya kembali perundingan damai dengan AS.

"Pesan masih disampaikan melalui para mediator dan Iran tidak meninggalkan jalur diplomasi. Namun, laporan bahwa Iran meminta negosiasi dengan AS adalah rekayasa. Itu bukan karakter kami," kata Baghaei.

Baca Juga: Minyak Terjun 7% usai AS dan Iran Hentikan Serangan, Brent Kembali di Bawah US$ 90

Iran tegaskan masih menguasai Selat Hormuz

Media pemerintah Iran melaporkan aparat negara memaksa enam kapal yang disebut melanggar aturan untuk berbalik arah ketika mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin pada Senin pagi. Salah satu kapal dilaporkan mengalami kecelakaan.

Menurut sumber tersebut, jalur pelayaran yang diperbolehkan adalah jalur yang ditetapkan Iran, sedangkan rute lain dianggap tidak aman.

Perselisihan mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu sumber utama konflik.

Washington meminta kapal-kapal internasional melintas melalui jalur dekat pantai Oman, sedangkan Iran mewajibkan kapal menggunakan jalur yang berada lebih dekat ke wilayahnya dan berencana mengenakan biaya transit.

Baca Juga: Rapor 18 Bulan Donald Trump: AI Bersinar, Inflasi dan Biaya Hidup Masih Membebani

Sebelum konflik memanas, Washington dan Teheran telah menyepakati kerangka perundingan yang dijadwalkan berlangsung sebelum akhir Agustus untuk membahas sejumlah isu, termasuk program nuklir Iran.

Namun, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai isi nota kesepahaman terkait pengelolaan Selat Hormuz.

Iran juga tengah berupaya memformalkan pengaturan Selat Hormuz melalui kesepakatan dengan Oman yang menguasai sisi seberang selat.

Delegasi senior Oman diketahui berada di Teheran pada akhir pekan lalu untuk membahas masa depan jalur pelayaran strategis tersebut.