KONTAN.CO.ID - VILNIUS/STOCKHOLM/LONDON. Drone-drone Ukraina dilaporkan beberapa kali memasuki wilayah udara negara-negara Baltik dalam beberapa pekan terakhir. Insiden ini memicu kebingungan sekaligus meningkatkan ketegangan dengan Rusia, di tengah munculnya pertanyaan mengenai komitmen Amerika Serikat terhadap keamanan kolektif NATO. Pelanggaran wilayah udara tersebut terjadi ketika Ukraina berupaya melancarkan serangan yang lebih besar terhadap Rusia, empat tahun setelah invasi penuh Moskow dimulai. Kyiv menggunakan drone peledak untuk menyerang pelabuhan-pelabuhan Rusia di kawasan Baltik yang menangani hampir 40% ekspor minyak dan gas nasional Rusia. Dalam sebagian besar kasus, Ukraina dan negara-negara Baltik mengonfirmasi bahwa drone yang tersesat tersebut berasal dari Ukraina. Namun, mereka menuding Rusia menjadi penyebab perubahan jalur penerbangan drone melalui penggunaan sistem pertahanan elektronik yang mampu mengacaukan atau memalsukan sinyal navigasi.
Perangkat semacam itu memang banyak digunakan oleh Rusia maupun Ukraina untuk mengganggu sistem navigasi drone dan rudal lawan. Di sisi lain, Rusia menuduh negara-negara Baltik bekerja sama dengan Ukraina dengan membiarkan wilayah udara mereka digunakan untuk melancarkan serangan ke target-target Rusia. Tuduhan tersebut dibantah oleh negara-negara Baltik dan Ukraina. Negara-negara Baltik anggota NATO, yakni Lithuania, Latvia, dan Estonia, dikenal sebagai pendukung kuat Ukraina. Mereka menilai Rusia sengaja menggunakan retorika eskalatif untuk mengintimidasi agar negara-negara tersebut menekan Ukraina menghentikan serangan drone.
Baca Juga: Hong Kong Kuasai Aset Offshore Dunia, Geser Dominasi Swiss Menteri Luar Negeri Estonia, Margus Tsahkna, mengatakan Rusia berusaha memecah solidaritas Barat. “Mereka kini mati-matian menggunakan segala peluang untuk memecah dunia Barat dan memberikan lebih banyak tekanan kepada Ukraina agar tidak melancarkan serangan-serangan ini,” ujarnya dalam wawancara telepon.
Ancaman Dinilai Semakin Meningkat
Sebagian besar drone tidak menimbulkan kerusakan besar karena jatuh di area terbuka atau kembali keluar dari wilayah udara Baltik. Namun, kekhawatiran di kawasan terus meningkat. Pada 19 Mei lalu, jet tempur NATO menembak jatuh drone yang diduga berasal dari Ukraina di Estonia. NATO menyebut insiden itu sebagai pertama kalinya misi jet tempur mereka di Baltik “menembakkan rudal untuk mempertahankan Aliansi” sejak tiga negara Baltik bergabung dengan NATO pada 2004. Sehari kemudian, anggota parlemen Lithuania terpaksa berlindung di bawah tanah saat sebuah drone mendekati ibu kota Vilnius. Pada hari berikutnya, peringatan serangan udara juga dikeluarkan di wilayah utara Lithuania. Menteri Pertahanan Lithuania, Robertas Kaunas, mengatakan ancaman kini semakin nyata. “Tingkat ancaman terus meningkat. Drone masuk ke wilayah kami. Drone itu berasal dari Ukraina, tetapi beberapa membawa bahan peledak dan bisa menghantam objek sipil. Kami harus melindungi masyarakat,” katanya kepada Reuters.
Baca Juga: Bursa Eropa Menguat, Saham Otomotif dan Kimia Topang STOXX 600 Penasihat kebijakan luar negeri Presiden Lithuania, Asta Skaisgiryte, mengatakan kawasan Baltik kini menghadapi fase yang lebih intens akibat kemajuan teknologi perang drone Ukraina yang membuat serangan jarak jauh menjadi lebih efektif. Ia juga menyebut ada kemungkinan Rusia sengaja mengarahkan drone agar masuk ke negara-negara tetangga. Sejumlah drone bahkan masuk ke wilayah udara Baltik tanpa terdeteksi, yang memperlihatkan adanya celah dalam sistem pertahanan udara NATO di perbatasan Rusia dan Belarus. Situasi ini turut memicu tekanan politik di Latvia. Perdana Menteri Latvia, Evika Silina, akhirnya mengundurkan diri setelah memecat menteri pertahanannya karena dinilai gagal memperkuat sistem pertahanan udara.
Ukraina Selidiki Penyebab Drone Menyimpang
Meski mendukung penuh Ukraina, pejabat Estonia disebut telah menyampaikan kepada Kyiv bahwa pelanggaran wilayah udara semacam ini tidak membantu situasi keamanan kawasan. Estonia juga meminta Ukraina meningkatkan kendali terhadap drone-drone mereka. Seorang sumber militer Ukraina mengatakan penyelidikan “serius” sedang dilakukan untuk mengetahui bagaimana Rusia dapat menyebabkan drone Ukraina keluar dari jalur penerbangan dan masuk ke wilayah udara Baltik. Sementara itu, sumber senior militer Swedia menilai Ukraina sengaja menerbangkan drone dekat perbatasan Baltik-Rusia sebagai bentuk perlindungan, dengan asumsi Rusia tidak akan berani menembak ke wilayah NATO karena berisiko memicu konfrontasi langsung. Namun, Kementerian Luar Negeri Ukraina membantah tuduhan tersebut. Ukraina justru menuding Rusia sengaja mengacaukan sinyal drone agar mengarah ke negara-negara Baltik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, mengatakan Kyiv selalu memilih jalur penerbangan yang meminimalkan risiko bagi sekutu Baltik mereka. “Kami memiliki intelijen bahwa Rusia memang sengaja melakukan ini, jadi ini bukan sekadar tuduhan tanpa dasar dari pihak kami,” ujarnya.
Rusia Ancam Balas Serangan Drone
Pekan lalu, duta besar Rusia untuk PBB mengatakan Moskow memiliki informasi bahwa Ukraina berencana meluncurkan drone militer dari Latvia dan negara Baltik lainnya. Rusia pun memperingatkan akan melakukan serangan balasan. Meski perwakilan Latvia di PBB menyebut tuduhan tersebut sebagai “fiksi belaka”, badan intelijen luar negeri Rusia SVR mengklaim Riga telah menyetujui skema tersebut meski khawatir menjadi “korban serangan balasan Moskow”.
Baca Juga: WHO: Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Naik Jadi 13 Orang Pejabat Estonia dan Lithuania menilai pernyataan Rusia justru menunjukkan kelemahan Moskow dalam menghadapi serangan drone Ukraina maupun kemajuan di medan perang. Kepala Geopolitics and Security Studies Center di Vilnius, Linas Kojala, memperingatkan adanya risiko salah perhitungan akibat tindakan provokatif Rusia. “Ketegangan sangat tinggi dan ada risiko eskalasi yang tidak disengaja,” ujarnya kepada Reuters.
Komitmen AS terhadap NATO Dipertanyakan
Di tengah meningkatnya ketegangan, komitmen Amerika Serikat terhadap NATO juga menjadi sorotan. Meski para pemimpin Eropa melihat Rusia sebagai ancaman utama, Washington mengirimkan sinyal yang beragam mengenai komitmennya terhadap pertahanan Eropa.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya sempat menyatakan bahwa AS bisa saja keluar dari NATO. Pemerintah AS juga sempat menunda pengerahan pasukan ke Polandia bulan ini, sebelum akhirnya mengumumkan pengiriman tambahan 5.000 personel militer beberapa hari kemudian. Seorang pejabat keamanan Baltik yang tidak disebutkan namanya mengatakan retorika Rusia lebih banyak ditujukan untuk konsumsi domestik guna mengalihkan perhatian publik terhadap kesulitan Rusia menghadapi serangan drone Ukraina. “Mereka ingin menutupi fakta bahwa sebenarnya mereka kesulitan menghadapi serangan drone Ukraina,” ujarnya. “Dari perspektif kami, situasi keamanan di kawasan belum berubah,” tambahnya.