KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (
DSSA) memperluas peluang ekspansi bisnis pusat data dengan membeli lahan seluas 16,63 hektare senilai Rp 3,1 triliun. Namun, kontribusi investasi ini terhadap pendapatan dan laba masih bergantung pada realisasi pembangunan fasilitas, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan perseroan menarik pelanggan. Lahan seluas 166.261 meter persegi tersebut dibeli melalui anak usaha DSSA, SMPlus Cakrawala Cipta Gemilang (SMCCG), dari Surya Inter Wisesa (SIW), anak usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).
Baca Juga: Telkom (TLKM) Ekspansi Pusat Data AI, BRI Danareksa Targetkan Harga Saham Rp 3.500 Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai prospek bisnis pusat data DSSA menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan penyimpanan data di Indonesia. Potensi tersebut mulai tercermin dalam kinerja segmen teknologi dan infrastruktur digital DSSA. Pada semester I-2026, pendapatan segmen ini tumbuh 89,3% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 182,2 juta. Meski tumbuh pesat, bisnis energi masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. "Kontribusi terhadap pendapatan dan laba baru akan terlihat setelah pembangunan selesai, fasilitas mulai beroperasi, serta kapasitasnya terisi pelanggan," ujar Elandry dalam wawancara tertulis, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: New York Larang Pembuatan Pusat Data Baru dan Terapkan Moratorium Selama Satu Tahun Menurut Elandry, dampak ekspansi terhadap kinerja keuangan DSSA lebih mungkin terlihat dalam jangka menengah. Waktu realisasinya akan bergantung pada jadwal konstruksi dan permintaan pelanggan. Secara konsolidasi, pendapatan DSSA pada semester I-2026 meningkat 34% YoY menjadi US$ 1,77 miliar. Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 79,6% YoY menjadi US$ 174,4 juta. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pembelian lahan tersebut dapat menjadi fondasi bagi DSSA untuk menambah kapasitas pusat data secara bertahap sesuai kebutuhan pasar. Namun, kepemilikan lahan belum menghasilkan pendapatan secara langsung karena perseroan masih harus menyiapkan investasi pembangunan dan infrastruktur pendukung. Kebutuhan investasi itu mencakup pasokan listrik, sistem pendingin, serta konektivitas.
Baca Juga: Ekspansi Pusat Data Jadi Tumpuan Pertumbuhan Kinerja Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Karena itu, keberhasilan ekspansi tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pusat data yang dibangun, tetapi juga kemampuan DSSA menggaet pelanggan berkualitas, menjaga tingkat keterisian fasilitas, dan menghasilkan imbal hasil yang optimal. Nafan menambahkan, investor perlu mencermati kebutuhan belanja modal, sumber pendanaan, tingkat utilisasi pusat data, serta kepastian pasokan listrik. Keterlambatan konstruksi dan beban depresiasi juga berpotensi menekan profitabilitas, terutama sebelum fasilitas beroperasi secara optimal. Dari sisi saham, Nafan merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see terhadap DSSA karena pergerakan sahamnya dinilai masih berada dalam fase
markdown.
Investor perlu mempertimbangkan valuasi, perkembangan fundamental, dan realisasi ekspansi sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Ancaman Terselubung di Balik Maraknya Data Center di Indonesia Sejalan dengan itu, Elandry menyarankan investor memantau pertumbuhan laba, arus kas, dan tingkat utilisasi pusat data. Indikator tersebut penting untuk menilai apakah ekspansi bisnis digital DSSA mampu menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan modal yang ditanamkan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News