Dua Bank Ini Masih Berjibaku Genjot Penyelesaian Kredit Bermasalah Warisan Masa Lalu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank masih berupaya keras untuk membersihkan aset buruk warisan masa lalu meskipun kinerja terus membaik.

Ambil contoh, Bank Tabungan Negara (BTN) terus menggenjot penyelesaian kredit bermasalah yang berasal dari portofolio masa lalu. Upaya ini dilakukan secara konsisten melalui restrukturisasi, perbaikan, hingga penjualan aset.

Per kuartal I-2026, rasio Non Performing Loan (NPL) gross di BTN sebesar 3,1%, menurun dari 3,3% di periode sama tahun sebelumnya.


Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu, mengatakan setiap tahun perseroan mampu menghasilkan recovery income sekitar Rp 800 miliar dari aktivitas penyelesaian kredit bermasalah tersebut.

“Setiap tahun kita melakukan restrukturisasi, perbaikan, dan penjualan. Yang menjadi recovery income sekitar Rp 800 miliar tiap tahun,” ujarnya saat konferensi pers paparan kinerja perseroan, Rabu (15/4/2026).

Nixon menambahkan, tren penambahan NPL baru saat ini sudah menunjukkan penurunan. Namun, tantangan terbesar masih berasal dari kredit bermasalah lama yang proses penyelesaiannya tidak mudah.

Ia mencontohkan sejumlah kendala klasik, seperti aset properti yang tidak memiliki sertifikat atau belum mengantongi izin sejak awal. Kondisi ini membuat aset sulit dijual meskipun sudah dilakukan berbagai upaya.

Baca Juga: Penyaluran KPR Melambat, Kredit Bermasalah Justru Meningkat di Awal 2026

“Kalau tidak ada sertifikat, mau dijual ke mana. Ada juga yang tidak ada izin dari awal, ini yang menjadi pekerjaan rumah besar,” jelasnya.

Permasalahan tersebut umumnya berasal dari kredit yang diberikan puluhan tahun lalu. Meski demikian, manajemen saat ini tetap berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut tanpa menyalahkan kebijakan masa lalu.

BTN juga menghadapi kasus di mana debitur telah melunasi kredit, tetapi dokumen legal seperti sertifikat atau izin bangunan belum dapat diselesaikan. Hal ini turut berdampak pada penyelesaian aset dan kualitas portofolio.

“Setiap tahun ratusan ribu kasus seperti ini kita rapikan dan selesaikan,” katanya.

BTN juga mengandalkan penjualan aset bermasalah atau hapus buku (write-off) sebagai salah satu sumber pendapatan non-operasional. Strategi ini dinilai tetap efektif menopang recovery income di tengah upaya menjaga kualitas aset.

Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan realisasi penjualan aset bulk sejauh ini masih sesuai dengan target perseroan.

“Aset penjualan sesuai target, justru salah satu pendapatan non-operasional yang baik itu dari recovery. Jadi dengan penjualan aset konsumer seperti rumah yang sudah macet dan hapus buku itu cukup baik,” ujarnya.

Setiyo menyebut, BTN secara konsisten mampu membukukan recovery income dari penjualan aset sekitar Rp 800 miliar setiap tahun. Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan dari recovery dapat meningkat ke kisaran Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun.

Target tersebut diperkirakan tumbuh sekitar 15%–20% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menekankan pertumbuhan ini bersifat bertahap dan tidak bisa melonjak drastis dalam waktu singkat.

“Memang perlu waktu, tidak bisa langsung melonjak. Tapi ini bisa menjadi recurring income ke depan,” jelasnya.

Dalam mendorong penjualan aset, BTN mulai mengembangkan sejumlah skema baru. Salah satunya melalui skema direct yang akan difokuskan pada aset komersial seperti hotel, mal, dan kondotel.

Skema ini nantinya akan dikemas dalam bentuk instrumen investasi seperti real estate investment trust (REITs) atau direct investment yang ditawarkan ke pasar.

“Untuk komersial properti seperti hotel dan mal, itu akan kita bungkus menjadi REITs atau direct investment, lalu dijual ke market,” imbuh Setiyo.

Baca Juga: Kredit Bermasalah Naik Januari 2026, Perbankan Waspadai Risiko Geopolitik

Saat ini, penjualan aset BTN juga dilakukan dengan menggandeng investor, baik untuk segmen properti komersial maupun konsumer. Untuk aset konsumer, perseroan aktif menjaring investor melalui berbagai kegiatan seperti gathering.

“Kalau komersial properti ada investor yang masuk. Untuk konsumer juga ada investor, kita buat gathering dan sebagainya,” katanya.

Di sisi lain, BTN tetap menjaga kualitas kredit. Perseroan menargetkan NPL gross berada di kisaran 2,9% pada tahun ini.

PT Bank KB Indonesia Tbk juga masih menyimpan kredit macet warisan dari bank sebelumnya yaitu Bank Bukopin. Di mana, jumlahnya pun masih tergolong besar.

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank membenarkan bahwa saat ini pihaknya terus berusaha untuk membersihkan peninggalan tersebut. Di mana, per Desember 2025, rasio Non Performing Loan (NP) gross dari KB Bank sebesar 9,97%.

NPL tersebut mayoritas berasal dari warisan masa lalu. Artinya, dengan total kredit senilai Rp 44, 39 triliun di periode tersebut maka total nilai yang macet mencapai Rp 4,43 triliun.

Baca Juga: Bank Muamalat Targetkan Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah Bisa Tercapai Akhir 2025

Kunardy mengatakan, bahwa pihaknya terus berupaya menyelesaikan portofolio kredit bermasalah yang berasal dari periode sebelumnya melalui berbagai strategi, antara lain restrukturisasi kredit serta penjualan aset/kredit bermasalah.

"Namun demikian, proses penyelesaian ini dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan ketentuan regulasi yang berlaku, sehingga tidak dapat diselesaikan secara simultan," kata Kunardy.

Per Desember 2025, posisi NPL gross KB Bank tercatat sebesar 9,97% dan NPL nett sebesar 6,33%. Hal ini kata Kunardy mencerminkan bahwa Bank telah membentuk pencadangan yang memadai, dengan provision coverage ratio terhadap NPL sekitar 37%.

Ke depan, KB Bank menargetkan penurunan portofolio kredit bermasalah dan rasio NPL secara bertahap dan berkelanjutan dibandingkan tahun sebelumnya.

Upaya yang dilakukan tetap berfokus pada kombinasi strategi restrukturisasi, penagihan intensif, serta optimalisasi penjualan aset bermasalah, dengan pendekatan yang selektif dan prudent.

Baca Juga: Tekanan Kredit Bermasalah Picu Penarikan Kendaraan di Lapangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News