KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Di tengah lesunya kinerja dan beratnya penugasan pemerintah, outlook surat utang perbankan masih dinilai stabil oleh PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Pefindo mencatat mandat penerbitan surat utang (obligasi) korporasi mencapai Rp 71,35 triliun hingga 31 Januari 2026. Dari total mandat awal tahun ini, ada dua perusahaan perbankan yang berencana menerbitkan surat utang dengan nilai indikatif sebesar Rp 7,7 triliun. Menariknya, sebanyak 45 bank yang diperingkat Pefindo hingga Januari 2026 lalu tercatat memiliki outlook stabil. Asal tahu saja, dari 95 perusahaan jasa keuangan yang diperingkat oleh Pefindo, hanya satu perusahaan yang mendapat outlook negatif, yakni PT Reasuransi Indonesia Utama.
Outlook stabil ini diperoleh perbankan meski tahun lalu kinerja industri cenderung melambat. Yang mana, per Desember 2025 kredit hanya tumbuh di kisaran 9% secara tahunan dan NIM turun ke 4,56% dari posisi 4,62% pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pefindo Ganjar Peringkat idAAA Atas BRI Tapi Obligasi Subordinasi di idAA Belum lagi bank-bank milik negara, yang pada dasarnya menguasai sebagian besar market industri, juga dibebankan sejumlah mandat pembiayaan oleh pemerintah. Kendati begitu, Head of Financial Institutions Rating Division Pefindo, Danan Dito menilai keterlibatan perbankan dalam program pemerintah bukan hal baru. Selama ini, sektor bank sudah aktif menyalurkan KUR yang kini juga mengalami perluasan segmen. Salah satu yang menjadi perhatian kini adalah dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, menurut Danan, karena program ini relatif baru, bank masih melakukan kajian risiko secara bertahap sebelum masuk lebih dalam. “Kalau kami bicara dengan bank-bank, mereka tentu mengkaji dari sisi risikonya juga. Masuknya bertahap, sesuai risk management dan risk appetite masing-masing,” jelas Danan dalam paparan daring, Rabu (11/2/2026). Danan menambahkan, tambahan pendanaan pemerintah pada tahun lalu, termasuk dukungan likuiditas yang mencapai sekitar Rp 200 triliun, memberi ruang bagi bank-bank yang memiliki kapasitas pendanaan besar untuk melakukan reprofiling portofolio. Kendati demikian, langkah tersebut tak serta-merta mendorong pertumbuhan kredit secara agresif. Menurutnya, pendekatan setiap bank berbeda dalam menyesuaikan dukungan terhadap program pemerintah dengan profil risiko masing-masing.
Baca Juga: Pefindo Beri Peringkat idAAA China Construction Bank Indonesia “Kalau sampai rasio kredit bermasalah (NPL) meningkat dan pencadangan naik, itu tentu berdampak buruk bagi bank dan industrinya. Jadi bank tetap berhati-hati,” katanya. Dari sisi industri, Danan menilai pertumbuhan kredit tahun lalu di kisaran 9% masih cenderung konservatif. Namun, angka tersebut mencerminkan sikap perbankan yang tetap menjaga kualitas aset di tengah dorongan pembiayaan program pemerintah. Ke depan, sejauh mana program-program prioritas pemerintah dapat mendorong pertumbuhan kredit akan sangat bergantung pada kesiapan masing-masing bank dalam mengelola risiko dan kapasitas permodalannya. “Pada akhirnya, kembali ke masing-masing perbankan. Mereka akan menyesuaikan dengan kemampuan dan appetite risiko yang dimiliki,” tutup Danan.
Baca Juga: Pefindo Siapkan Layanan Pemeringkatan Reksadana dan Manajer Investasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News