KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pupuk Indonesia Group mengembangkan dua pabrik soda ash dengan total kapasitas produksi 600.000 ton per tahun untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri kimia. Kedua fasilitas tersebut ditargetkan mampu menggantikan sekitar 60% volume impor soda ash nasional dan menghemat devisa hingga Rp 2 triliun per tahun. Salah satu proyek tersebut dikembangkan PT Petrokimia Gresik di Jawa Timur.
Proyek ini memasuki tahap kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) setelah Petrokimia Gresik menandatangani kontrak pengerjaan dengan PT Rekayasa Industri (Rekind), yang juga merupakan bagian dari Pupuk Indonesia Group.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Mulai Salurkan Pupuk Subsidi Lewat Koperasi Merah Putih Pabrik di Gresik dirancang memiliki kapasitas produksi soda ash sebesar 300.000 ton per tahun. Kapasitas tersebut diperkirakan dapat menggantikan sekitar 29% impor nasional berdasarkan kebutuhan 2025. Sebagai gambaran, kebutuhan soda ash Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 1,05 juta ton dengan nilai impor US$ 225 juta. Seluruh kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari luar negeri. Dengan beroperasinya pabrik di Gresik, perusahaan memperkirakan penghematan devisa mencapai Rp 1,4 triliun per tahun. Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, pengembangan industri hilir menjadi langkah penting untuk memperkuat pasokan bahan baku industri di dalam negeri. "Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri," ujar Rahmad, Minggu (1/11/2026).
Baca Juga: Pupuk Indonesia Perluas Distribusi Pupuk Subsidi Lewat Koperasi Merah Putih Selain soda ash, pabrik di Gresik juga dirancang memproduksi 300.000 ton amonium klorida per tahun. Produk ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pupuk NPK sehingga proyek tersebut sekaligus memperkuat rantai pasok industri pupuk nasional. Soda ash sendiri merupakan bahan kimia dasar yang banyak digunakan dalam industri kaca, deterjen, kertas, dan berbagai produk kimia lainnya.
Manfaatkan Emisi Karbon
Proyek di Gresik juga mengusung teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) atau penangkapan dan pemanfaatan karbon. Melalui teknologi ini, pabrik akan memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk sebagai bahan baku pembuatan soda ash. Petrokimia Gresik sebelumnya telah menguji teknologi tersebut melalui fasilitas pilot plant. Hasil pengujian menunjukkan tingkat efisiensi penangkapan karbon berkisar 91,48% hingga 97,79%. Pupuk Indonesia menyebut pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari transformasi industri rendah karbon sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Baca Juga: Pupuk Indonesia Catat Penebusan Pupuk Subsidi 6,77 Juta Ton hingga September 2026 Meski demikian, efektivitas pemanfaatan karbon dan manfaat lingkungannya perlu dibuktikan dalam operasional pabrik berskala industri. Selain di Gresik, Pupuk Indonesia Group juga mengembangkan pabrik soda ash melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur. Jika kedua proyek beroperasi sesuai rencana, total kapasitas produksi soda ash domestik akan mencapai 600.000 ton per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 60% volume impor nasional. Pupuk Indonesia memproyeksikan kedua pabrik tersebut dapat menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp 2 triliun per tahun saat beroperasi penuh.
Baca Juga: Bisnis Keberlanjutan, Pupuk Indonesia Mendorong Efisiensi dan Dekarbonisasi Pengembangan kedua fasilitas ini merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia, yang mencakup pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan. Namun, realisasi pengurangan impor tetap bergantung pada penyelesaian pembangunan, efisiensi biaya produksi, serta kemampuan produk dalam negeri bersaing dengan produk impor dari sisi harga dan kualitas. Sumber:
https://www.tribunnews.com/bisnis/7905368/impor-soda-ash-tembus-105-juta-ton-industri-kimia-kembangkan-alternatif-pasokan?page=all&s=paging_new Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News