Dua Sentimen Menguji Saham GOTO, Intip Prospek dan Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum Rp 50 di pasar reguler serta rencana pembatasan komisi ride-hailing sebesar 8% oleh pemerintah menjadi dua tantangan utama bagi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Meski demikian, solidnya pertumbuhan ekosistem bisnis fintech dianggap mampu menjaga prospek kinerja keuangan perseroan hingga akhir tahun. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penerapan kebijakan harga minimum Rp 1 berpotensi memicu volatilitas serta tekanan jual saham GOTO dalam jangka pendek.


Baca Juga: Total Bangun (TOTL) Kebanjiran Proyek Data Center, Pipeline Tembus Rp 17,2 Triliun

Hal tersebut terjadi karena pemegang saham yang sebelumnya terperangkap di level Rp 50 kini memperoleh ruang untuk melakukan aksi jual.

Secara teknikal, pergerakan harga saham GOTO berisiko menguji kisaran Rp 20–Rp 30 per saham, atau bahkan menembus level Rp 10–Rp 20 dalam skenario tekanan jual yang sangat kuat.

Namun, terbukanya mekanisme price discovery justru dapat membuat transaksi menjadi lebih likuid sehingga investor institusi maupun strategis dapat menentukan valuasi perusahaan secara lebih rasional. 

Terlepas dari dinamika harga saham di pasar reguler, perubahan regulasi bursa tersebut tidak berdampak langsung terhadap operasional bisnis.

Managing Director of Research Division PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menegaskan bahwa penghapusan batas harga minimum Rp 50 hanya memengaruhi pergerakan teknis saham.

 
GOTO Chart by TradingView

"Penghapusan batas harga IDR50 lebih berdampak pada volatilitas dan price discovery saham, sementara secara fundamental tidak memengaruhi bisnis maupun cash flow GOTO," ujar Harry Su kepada Kontan, Rabu (9/9). 

Di sisi kinerja operasional, aturan pembatasan komisi layanan kendaraan roda dua (GoRide) dari 20% menjadi 8% diproyeksikan akan menekan pendapatan serta profitabilitas segmen On-Demand Services (ODS).

Kebijakan ini mendorong GOTO memangkas target adjusted EBITDA segmen ODS tahun 2026 sebesar Rp 300 miliar menjadi Rp 1,4 triliun–Rp 1,5 triliun.

Kendati demikian, manajemen GOTO tetap mempertahankan panduan adjusted EBITDA grup di kisaran Rp 3,2 triliun–Rp 3,4 triliun lantaran ditopang oleh pesatnya pertumbuhan bisnis fintech lewat GoPay. 

Nafan mengungkapkan bahwa kekuatan ekosistem GOTO saat ini terletak pada diversifikasi bisnis yang kian matang.

Pada kuartal II 2026, EBITDA segmen fintech mencatatkan pencapaian sebesar Rp 481 miliar, melampaui raihan EBITDA segmen ODS yang sebesar Rp 464 miliar.

Baca Juga: IHSG Masih Berpeluang Menguat Bisa Tembus 7.200 hingga Akhir 2026

"Strategi yang paling rasional adalah menggeser sumber monetisasi dari komisi transaksi menuju volume transaksi, efisiensi unit economics, iklan, layanan merchant, dan ekosistem fintech," ungkap Nafan.

Secara fundamental, perseroan juga berhasil membukukan laba bersih Rp 608 miliar pada semester I 2026. 

Oleh karena itu, Analis OCBC Sekuritas Gani Gani merekomendasikan buy untuk saham GOTO dengan target harga Rp 67 per saham.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News