Dua skenario yang bakal dihadapi oleh Perry Warjiyo



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamis (24/5) besok, Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Perry Warjiyo bakal dilantik di Mahkamah Agung. Di awal kepemimpinannya Perry akan menghadapi beberapa tantangan. Yang paling utama adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bergerak di level 14.100-14.200 per dollar Amerika Serikat (AS).

Ekonom Maybank Juniman mengatakan, di awal masa kepemimpinannya, ada dua skenario yang bakal dihadapi oleh Perry. Dua skenario tersebut tergantung pada berapa kali Bank Sentral AS The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini.

Kalau yang terjadi The Fed tetap bakal menaikkan suku bunganya hanya tiga kali seperti yang diproyeksi oleh BI, maka suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate tidak akan dinaikkan lagi tahun ini.


“Bila itu yang terjadi, BI tidak naikkan suku bunga. Mereka cukup lakukan relaksasi kebijakan makroprudensial atau financial deepening untuk counter dampak dari kenaikan suku bunga sebanyak 25 basis poin (bps) kemarin,” kata Juniman kepada Kontan.co.id, Rabu (23/5).

Kalau empat kali, Juniman bilang, artinya sesuai ekspektasi pasar saat ini dan BI harus menaikkan suku bunga. Namun, BI juga perlu menggunakan relaksasi kebjakan makroprudensial atau financial deepening untuk menghalau dampak negatif dari kenaikan suku bunga bank sentral terhadap ekonomi di Indonesia.

“Kalau itu dilakukan, itu efeknya ekonomi kita tidak melambat, tapi di sisi lain moneter stabil. Investor nyaman adalah yang terpenting,” ujar Juniman.

Bila The Fed menaikkan suku bunganya empat kali, Juniman mengatakan, BI cukup menaikkan suku bunganya sekali lagi sebanyak 25 bps tahun ini.

Sementara itu, Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, tahun ini BI masih perlu menaikkan suku bunga dua kali lagi.

“Ada ekspektasi dua kali lagi masing-masing 25 bps. Jadi, maksimal BI menaikkan suku bunga 75 bps pada tahun ini,” ucap Lana.

Untuk menyiasati cadangan devisa yang menipis, Lana mengatakan, BI perlu mencari suplai devisa baru, yakni dari valas yang ada di perbankan agar dibuat jangka waktu tertentu bagi bank untuk simpan valasnya agar disimpan di BI saja.

Di sisi lain, Juniman berpendapat kunci dari cadev adalah current account yang bergantung pada investasi di dalam negeri. Nah, upaya yang bisa dilakukan BI dalam hal ini adalah menjaga stabilitas makro ekonomi.

“Kalau BI bisa jaga ini, maka akan membuat investor nyaman,” kata Juniman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi