Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo, Begini Pergerakan IHSG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kurang menggembirakan. Tekanan domestik dan global menjadi penyebab utama lesunya kinerja indeks sejak awal pemerintahannya.

Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup melemah 3,64% ke 4.996,60 di akhir perdagangan, Senin (19/10/2026). Koreksi IHSG di awal pekan ini merupakan lanjutan imbas dari pengumuman MSCI pada Jumat (16/10/2026).

Sejak awal tahun, IHSG sudah mengakumulasi penurunan sebesar 42,22% year to date (YTD). 


Nah, jika dihitung sejak awal pemerintahan Prabowo, maka IHSG sudah melemah 35,71%. Lantaran, IHSG tercatat berada di level 7.772,60 pada 21 Oktober 2024.

Baca Juga: BREAKING NEWS: BEI Kembali Ubah Aturan ARB, Ini Rinciannya

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, sebagai pembanding, selama sepuluh tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), IHSG naik sekitar 499,5%.

Sedangkan selama era Presiden Joko Widodo, IHSG naik sekitar 53,95%. 

Namun, perbandingan tersebut harus mempertimbangkan perbedaan kondisi ekonomi global, siklus komoditas, tingkat valuasi awal, dan perkembangan struktur pasar modal.

”Kinerja indeks juga tidak dapat diatribusikan sepenuhnya kepada presiden yang sedang menjabat,” ujarnya kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma menambahkan, sebenarnya potensi rebound IHSG hingga level 6.000 lagi di sisa 2026 cukup sulit lantaran net sell asing yang terlalu besar. 

Net sell tercatat Rp 2,28 triliun di akhir perdagangan Senin (19/10/2026). Sejak awal tahun, asing sudah keluar sebesar Rp 114,17 triliun year to date (YTD).

Baca Juga: Harga Melorot Ke Titik Terendah, Saham Ini Akan Bayar Dividen Interim Yield 6%

Artinya, pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada investor lokal. Pemulihan IHSG ke depan juga akan didorong oleh adanya titik jenuh penurunan.

“Jika dalam sebulan ke depan sentimen MSCI mereda dan lokal tetap aktif, potensi naik ke 6.000 di akhir tahun masih bisa,” ujarnya saat ditemui Kontan, Jumat (16/10/2026) lalu.

Meskipun begitu, Suria menegaskan, pergerakan Bursa Tanah Air merupakan anomali yang tak pernah terjadi sebelumnya. 

Saat ini, IHSG mengalami penurunan paling dalam di antara indeks regional lain. Hal ini tak pernah terjadi di krisis sebelumnya, baik itu di tahun 1998, 2008, maupun saat Pandemi Covid-19.

“Biasanya, saat indeks turun itu asing masuk lagi dan naik lagi. Sekarang itu panjang (jangka waktu net sell),” ungkapnya.

Suria menyarankan agar Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjalin komunikasi yang lebih intens lagi dengan pihak MSCI. 

Sebab, Reformasi Pasar saham yang dilakukan self regulating organization (SRO) saat ini dianggap hanya hal baik secara sepihak. MSCI belum secara terbuka mengungkapkan kepuasan mereka pada hasil Reformasi Pasar Saham sepanjang tahun ini.

“Itu hanya persepsi, tetapi bukan berarti MSCI puas. MSCI juga terakhir kembali mempertanyakan konsistensi dan implementasinya,”  katanya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan, syarat pemulihan juga harus datang dari luar dan dalam negeri.

Baca Juga: Emiten Ramai Gelar Buyback Saham, Cek Rekomendasi Saham yang Layak Dilirik

Pada tahun 2027, pasar modal masih akan berhadapan dengan sentimen inflasi Amerika Serikat (AS), kebijakan The Fed, rilis ketenagakerjaan AS, MSCI, situasi dan kondisi politik dalam negeri, kebijakan fiskal domestik, dan reformasi pasar modal.

Nico pun memproyeksikan, IHSG bisa menyentuh 7.000 di awal tahun 2027.

Elandry sepakat, pemulihan IHSG ke level 6.000 pada akhir 2026 juga masih memungkinkan, tetapi membutuhkan pemulihan kepercayaan investor yang signifikan. 

Setelah IHSG turun ke 4.923 pada sesi I 19 Oktober, indeks membutuhkan kenaikan sekitar 22% untuk mencapai 6.000. Pemulihan akan sangat bergantung pada kepastian reformasi pasar modal, transparansi free float, kejelasan tindak lanjut isu MSCI, stabilitas rupiah, dan meredanya net sell asing. 

“Selama capital outflow masih berlanjut, rebound berisiko hanya bersifat teknikal,” katanya.

Saham perbankan big caps, telekomunikasi, dan konsumer berpotensi menopang pemulihan ke depan jika tekanan jual mereda. Sedangkan, saham dengan likuiditas rendah, valuasi premium, atau struktur kepemilikan yang kurang transparan berisiko tertinggal. 

Rotasi sektoral juga mungkin terjadi ke emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan valuasi yang lebih rasional. 

Memasuki 2027, arah IHSG akan ditentukan oleh keberhasilan reformasi pasar modal, pertumbuhan laba emiten, arah suku bunga global, nilai tukar rupiah, serta efektivitas kebijakan ekonomi domestik.

“IHSG masih berpotensi pulih, tetapi ruang kenaikannya akan sangat ditentukan oleh penyelesaian isu transparansi pasar dan kembalinya kepercayaan investor asing,” katanya.

Baca Juga: Surya Citra Media (SCMA) Bagi Dividen Interim Rp 533,43 Miliar, Cek Jadwalnya

Sebagai skenario kerja, target akhir 2026 berada di kisaran 5.500–6.000. Di awal 2027, IHSG berpeluang bergerak di 5.500–6.200 jika tekanan jual mulai mereda. 

“Ini bukan proyeksi tanpa risiko. Jika capital outflow berlanjut dan risiko reklasifikasi MSCI membesar, IHSG bisa bertahan di bawah kisaran tersebut,” ungkapnya.

Sementara untuk akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo pada 2029, level IHSG di 7.000–8.000 bisa dilihat sebagai skenario pemulihan jangka menengah.

Syaratnya, pertumbuhan laba emiten kembali sehat, reformasi pasar modal berjalan konsisten, rupiah lebih stabil, dan arus dana asing berangsur pulih. 

“Namun, target 2029 memiliki tingkat ketidakpastian jauh lebih tinggi karena dipengaruhi siklus ekonomi global, suku bunga, kebijakan fiskal, dan kualitas pertumbuhan ekonomi domestik,” ungkapnya.

Bagi investor ritel domestik, prioritas saat ini adalah menjaga likuiditas dan mengendalikan risiko, bukan terburu-buru mengejar saham yang sudah turun dalam.

Elandry menyarankan, investor untuk menghindari menggunakan margin berlebihan dan jangan menganggap saham yang terkoreksi tajam otomatis murah. Selain itu, perlu juga fokus pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, utang terkendali, tata kelola yang baik, dan likuiditas memadai. 

Baca Juga: BEI Siapkan Dua Insentif Anyar Usai Gelar Pertemuan dengan MSCI, Ini Rinciannya

Investor juga harus membedakan koreksi harga akibat sentimen pasar dengan penurunan nilai fundamental perusahaan.

“Strategi yang lebih prudent adalah masuk bertahap, menjaga diversifikasi, dan menunggu konfirmasi stabilisasi indeks serta perkembangan konkret reformasi pasar modal sebelum meningkatkan eksposur,” paparnya.

Nico menyarankan investor untuk terus memerhatikan sentimen global dan dalam negeri karena akan menentukan perspektif dan persepsi pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian dalam negeri. 

“Selain itu, makroekonomi global dan dalam negeri juga turut menjadi perhatian dalam menentukan proyeksi dan asumsi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News