KONTAN.CO.ID - Dari pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) hingga pergeseran tatanan ekonomi global pascaperang, berbagai kekuatan besar tengah membentuk ulang sistem dunia. Seiring percepatan perubahan tersebut, risiko global pun meningkat. Dampaknya bukan hanya pada daya saing dan keamanan negara, tetapi juga berpotensi menekan pasar tenaga kerja secara tidak proporsional. Grafik ini menunjukkan daftar risiko global terbesar pada 2026, berdasarkan Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF).
Risiko Global Utama pada 2026
Untuk laporan ini, WEF mensurvei lebih dari 1.300 pakar terkait risiko paling mendesak di dunia pada 2026. Para responden diminta memilih satu risiko yang paling mungkin memicu krisis global tahun depan. Survei dilakukan pada periode 12 Agustus hingga 22 September 2025. Berikut daftar risiko teratas:
- Konfrontasi geoekonomi: 18%
- Konflik bersenjata antarnegara: 14%
- Cuaca ekstrem: 8%
- Polarisasi sosial: 7%
- Misinformasi dan disinformasi: 7%
- Perlambatan ekonomi global: 5%
- Erosi hak asasi manusia dan kebebasan sipil: 4%
- Dampak negatif teknologi AI: 4%
- Ancaman keamanan siber: 3%
- Ketimpangan: 3%
Baca Juga: Trump Ancam Tarif Negara yang Pasok Minyak ke Kuba Konfrontasi Geoekonomi Jadi Risiko Terbesar
Konfrontasi geoekonomi menempati posisi teratas, dipilih oleh 18% responden. Risiko ini naik dua peringkat dibanding tahun lalu, seiring masih berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah dan Ukraina. Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan Amerika Serikat terkait Greenland serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro turut memperburuk ketegangan global. Para pakar juga menilai sikap Presiden Donald Trump yang dinilai kurang tegas dalam membela Taiwan bisa membuka peluang bagi China untuk mendorong agenda “reunifikasi”. Konflik Bersenjata dan Cuaca Ekstrem Konflik bersenjata antarnegara menempati peringkat kedua dengan 14% responden. Saat ini, terdapat 59 konflik antarnegara aktif di dunia. Ini merupakan jumlah tertinggi sejak Perang Dunia II.
Tonton: Trump Kirim Armada Raksasa ke Timur Tengah, Iran Siapkan Senjata Sementara itu, cuaca ekstrem berada di posisi ketiga dengan 8%. Mulai dari kebakaran hutan hingga kekeringan, peristiwa cuaca ekstrem semakin mendorong inflasi pangan, perpindahan penduduk, serta kenaikan biaya asuransi. Seiring kenaikan suhu global, dampak ini diperkirakan akan semakin sering dan parah.