Dunia Memasuki Era Perang AI Global



KONTAN.CO.ID - TORONTO. Di era ketika akal imitasi (AI) mulai menentukan arah ekonomi, industri, hingga keamanan, persaingan antara dua kutub makin tajam. Hampir tiap terobosan besar AI lahir dari laboratorium perusahaan teknologi Amerika Serikat atau pusat riset yang didukung China. Keduanya berlomba membangun model AI paling canggih.

AMERIKA Serikat (AS) dan China kini menjadi dua negara yang paling menentukan perkembangan akal imitasi di dunia. AS memiliki teknologi canggih, termasuk akses ke produsen cip canggih. Sementara China memiliki bahan baku berupa barang tambang yang penting dalam pengembangan AI.

Namun, bagi Perdana Menteri Kanada Mark Carney, masa depan teknologi dunia tidak seharusnya ditentukan hanya oleh Washington dan Beijing. Negara-negara lain juga perlu berperan aktif.


Menjelang pertemuan para pemimpin negara G7, sebagaimana diberitakan Bloomberg, Jumat (12/6), Carney meluncurkan sebuah gagasan besar, yaitu menyatukan negara-negara dengan kekuatan menengah, seperti Kanada, Inggris, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan, untuk membangun kemandirian teknologi AI. Tujuannya sederhana namun ambisius, yakni mencegah AI menjadi monopoli dua kekuatan terbesar dunia.

Langkah tersebut muncul di tengah perlombaan AI yang semakin mahal dan semakin sulit diikuti. Perusahaan-perusahaan teknologi Amerika saat ini mendominasi sektor komersial berkat dukungan modal swasta yang nyaris tak terbatas serta infrastruktur komputasi yang sangat besar.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Terkait AI Naik Dua Kali Lipat, Bisa Capai US$ 570 Miliar

Sementara itu, China mengembangkan AI melalui pendekatan yang lebih terpusat dengan dukungan penuh pemerintah, menjadikannya bagian penting dari sistem ekonomi dan keamanan nasional.

Di antara dua raksasa tersebut, negara-negara maju lain menghadapi dilema. Negara lain memiliki universitas-universitas terbaik, talenta teknologi yang melimpah, dan ekonomi yang kuat. Namun mereka tidak memiliki kantong sedalam perusahaan teknologi Amerika atau dukungan negara sebesar yang dimiliki China. Dari sinilah lahir konsep yang disebut Carney sebagai AI berdaulat atau sovereign AI.

Konsep ini mengacu pada kemampuan suatu negara untuk mengembangkan, melatih, dan mengoperasikan model AI menggunakan pusat data sendiri, energi sendiri, dan aturan sendiri. Dengan kata lain, negara tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kendali penuh atas infrastruktur digital yang menopangnya.

Tantangannya tentu tidak kecil. Perlombaan AI membutuhkan investasi yang luar biasa besar. Belum lama ini, perusahaan investasi KKR mengumumkan pembentukan perusahaan infrastruktur AI dengan nilai US$ 10 miliar bersama Nvidia dan Vistra. Nilai investasi tersebut menunjukkan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk tetap relevan dalam kompetisi AI global.

Bagi negara-negara kekuatan menengah, bersaing secara sendiri-sendiri hampir mustahil. Karena itu, mendorong kolaborasi lintas negara yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta perlu dikaji.

Melalui AI berdaulat, negara-negara kekuatan menengah berharap dapat mengembangkan model yang dilatih menggunakan data lokal dan mencerminkan karakter masyarakatnya sendiri. Dengan begitu, sistem AI yang digunakan untuk pelayanan publik dapat berjalan sesuai prinsip demokrasi dan standar privasi nasional.

Baca Juga: Target Dipercepat: SpaceX Bidik Uji Coba Komputasi AI Berbasis Antariksa Akhir 2027