Dunia Usaha Melambat, Ekonom Sebut Permintaan Domestik Belum Cukup Dorong Ekspansi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai aktivitas dunia usaha pada kuartal IV 2025 mengalami perlambatan, meskipun permintaan domestik masih menjadi penopang utama perekonomian.

Perlambatan tersebut tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,61 pada kuartal IV 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan triwulan III 2025 yang sebesar 11,55 dan kuartal IV 2024 yang mencapai 12,46.

"Ini lebih mencerminkan perlambatan laju, karena permintaan domestik masih menjadi penopang utama, tetapi tertahan oleh komposisi sektor yang tidak merata dan gangguan sisi pasokan," ungkap Josua kepada Kontan, Senin (19/1/2026).


Josua menjelaskan, tekanan terutama berasal dari sektor-sektor yang sensitif terhadap faktor musiman dan cuaca. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melemah seiring pola masa tanam, curah hujan yang tinggi, serta banjir di sejumlah wilayah. 

Baca Juga: Ekonomi RI Dinilai Sulit Tumbuh 6% Jika Hanya Andalkan Permintaan Domestik

Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian kembali berada dalam fase kontraksi karena cuaca membatasi aktivitas produksi.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga dinilai masih solid. Hal ini tercermin dari penjualan eceran November 2025 yang tumbuh 6,3% secara tahunan (yoy) dan meningkat 1,5% secara bulanan (mtm). Keyakinan konsumen pada Desember 2025 juga tetap berada di level optimistis dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 123,5.

Namun demikian, dunia usaha dinilai masih berhati-hati dalam melakukan ekspansi kapasitas. Meski kondisi keuangan perusahaan membaik dibandingkan kuartal III 2025, terlihat dari kenaikan saldo bersih likuiditas menjadi 18,72 dan rentabilitas menjadi 16,51. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya.

Selain itu, hambatan rencana investasi pada semester I 2026 masih relatif besar, terutama terkait perizinan, tingkat suku bunga, dan perpajakan. 

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Stimulus Ekonomi Berlanjut di 2026, Intip Bocorannya

"Kombinasi pelemahan sektor berbasis cuaca, kehati-hatian investasi, dan tekanan biaya membuat laju kegiatan usaha melambat meski arah umumnya masih positif," jelas Josua.

Memasuki 2026, Josua memproyeksikan sektor-sektor yang ditopang konsumsi domestik, perbaikan distribusi, dan momentum musiman awal tahun berpeluang mencatat kinerja lebih baik. SKDU memperkirakan kegiatan usaha pada triwulan I 2026 meningkat dengan SBT mencapai 12,93.

Penguatan terutama diperkirakan terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring masuknya musim panen, serta industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta perdagangan besar dan eceran dan reparasi kendaraan, sejalan dengan meningkatnya permintaan pada periode Ramadan dan Idulfitri.

Sektor jasa yang terkait langsung dengan arus konsumsi dan transaksi juga diperkirakan tetap resilien, seperti akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, serta jasa keuangan.  

Baca Juga: Target Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2026, Analis Sebut Butuh Enam Hal Ini

Selanjutnya: Saham Melesat, Anak Usaha Prima Multi (PMUI) Disorot Investor Asing

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 20 Januari 2026, Utamakan Kolaborasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News