Dwi Aneka Jaya akan bangun pabrik baru Rp 500 M



TANGERANG. Emiten yang belum lama melantai di bursa, PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK) punya ambisi besar di industri kemasan dalam negeri. Perseroan akan menggenjot kapasitas produksi demi mencapai target penjualan hingga 121% dalam tiga tahun ke depan.

DAJK berencana membangun pabrik baru di Subang, Jawa  Barat. Nilai investasi pabrik ini ditaksir mencapai Rp 500 miliar. Saat ini, perseroan tengah menjajaki akuisisi lahan di daerah tersebut. "Kami membidik lahan hingga 30 hektare," ujar Witjaksono, Direktur Keuangan DAJK di Tangerang, Selasa (2/9).

Pabrik itu akan mulai digarap pada tahun 2017 mendatang untuk meningkatkan kapasitas produksi DAJK hingga dua kali lipat. DAJK sendiri kini memproduksi karton kemasan, kertas untuk kemasan, serta pengolahan barang-barang dari kertas dan karton.


Di bisnis kemasan itu, DAJK memiliki dua divisi usaha yakni offset printing dan karton gelombang (corrugated). Nah, tahun ini, perseroan memiliki kapasitas terpasang mesin offset printing sebanyak 35.000 ton. Hingga Juni, kapasitas terpakai sebesar 17.500 ton. Sementara kapasitas produksi corrugated sebesar 48.000 ton dan kapasitas terpakainya sebesar 19.800 ton. 

Nah di tahun ini, DAJK menambah enam mesin baru dengan nilai investasi sekitar Rp 250 miliar. Di bulan Oktober mendatang, DAJK akan kedatangan tiga mesin baru. Dus, kapasitas offset printing di akhir tahun bisa mencapai 72.000 ton.

Witjaksono mengatakan, rencana penambahan pabrik baru di Subang karena kapasitas pabrik di Tangerang makin terbatas, sementara permintaan dari sektor ini masih sangat besar. Tahun ini, total pelanggan DAJK sudah mencapai 410 pelanggan. "Akhir tahun mungkin bisa mencapai 500 pelanggan," ujarnya.

Dana untuk mengembangkan pabrik baru itu bakal berasal dari kas internal maupun mencari tambahan pendanaan dari eksternal. Dengan adanya tambahan pabrik baru, kapasitas terpakai DAJK di offset printing dan corrugated masing-masing akan mencapai 100.000 ton per tahun.

Dalam dua tahun ke depan, perseroan akan terus menambah mesin baru dengan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 500 miliar. Harapannya di tahun 2014, penjualan DAJK bisa mencapai Rp 826,5 miliar, lalu akan tumbuh menjadi Rp 1,3 triliun pada tahun 2015. Sementara laba bersih di tahun 2014 ditargetkan mencapai Rp 115,5 miliar dan di tahun depan mencapai Rp 211,35 miliar. 

Pembangunan pabrik itu akan memakan waktu sekitar dua tahun. Sehingga pada tahun 2018, harapannya DAJK sudah bisa mengantongi omzet sampai Rp 2 triliun dengan laba bersih Rp 386 miliar. "Margin laba akan kami jaga di kisaran 13%-15% per tahunnya," ujar Direktur Utama DAJK, Andreas Chaiyadi Karwandi.

Saat ini DAJK banyak mendapat pesanan dari sektor konsumer. DAJK juga tengah membidik pemain besar seperti Indofood dan Unilever. Perseroan juga sudah mendapat order pengemasan dari Oriental Asahi di Australia dan RMS Internasional di Inggris. Namun, DAJK di pasar ekspor DAJK tak banyak menggenjot ekspansi, soalnya, tahun ini perseroan masih bakal fokus di pasar dalam negeri yang masih cukup besar.

Kurangi Utang

Selain mendorong omzet, DAJK juga berikhtiar untuk mengurangi beban utangnya di tahun ini. Perseroan akan berupaya mempercepat pembayaran utang mulai tahun 2015. Witjaksono bilang, total liabilitas DAJK di tahun ini diperkirakan mencapai Rp 572,13 miliar. Di tahun 2015, liabilitas akan berkurang menjadi Rp 558,95 miliar dan di tahun 2017, liabilitas DAJK akan merosot hingga Rp 358,64 miliar.

Hitungan Witjaksono, Debt to Equity Ratio (DER) DAJK di tahun 2014 yang sebesar 53% akan menurun menjadi 30% di tahun 2015 dan 19% di tahun 2017. Informasi saja, pada Semester I 2014 lalu, perseroan membukukan penjualan sebesar RP 418,2 miliar, naik dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 184,9 miliar. Sementara laba bersihnya mencapai Rp 55,06 miliar, tumbuh dari sebelumnya Rp 29,22 miliar.

Wiliam Suryawijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities mengatakan, prospek industri ini masih cukup bagus seiring dengan pertumbuhan sektor konsumsi yang masih tinggi. Tantangannya, beban DAJK masih bisa tinggi lantaran adanya rencana kenaikan tarif dasar listrik dan BBM. Namun, DAJK masih akan fleksibel untuk menaikkan harga jual ke pelanggannya. 

Wiliam merekomendasikan Hold untuk saham DAJK dengan target harga Rp 525 per saham. Pada perdagangan Selasa (2/9), saham DAJK ditutup stagnan di level Rp 500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto