DXY Tembus Level 101, Rupiah dan Sejumlah Mata Uang Asia Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pasar valuta asing seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah.

Berdasarkan data Trading Economics, US Dollar Index (DXY) berada di level 101,085 pada Kamis (24/9/2026) pukul 15.33 WIB. Posisi tersebut mencerminkan kenaikan DXY sebesar 0,81% dalam sepekan dan 2,17% dalam sebulan.


Penguatan dolar AS terjadi setelah data aktivitas bisnis AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan. Di sisi lain, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai sekitar 70%.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, penguatan dolar terutama dipengaruhi ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi. Meski demikian, dampaknya terhadap mata uang Asia masih bervariasi.

Baca Juga: Summarecon (SMRA) Siapkan Dana Rp 468 Miliar Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Oktober 2026

"Pengaruhnya sedang, bukan berat. Kenaikannya belum besar. Pada 14 September DXY masih sekitar 99,35. Kini sekitar 100,5-100,9, naik sekitar 1,5% dalam dua pekan," kata Sutopo kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).

Pergerakan dolar AS tersebut turut tercermin pada sejumlah mata uang Asia. Yen Jepang berada di level 158,39 per dolar AS dan melemah 1,48% dalam sepekan.

Rupiah juga mengalami tekanan dengan melemah 0,80% menjadi Rp 17.917 per dolar AS. Sementara itu, rupee India turun 0,25% dan yuan China relatif stabil dengan pelemahan sebesar 0,14%.

Berbeda dengan mayoritas mata uang tersebut, won Korea Selatan justru menguat 1,04% dalam sepekan ke level 1.366,23 per dolar AS.

Sutopo menilai perbedaan kinerja mata uang Asia tersebut menunjukkan bahwa pergerakan dolar AS melalui DXY bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah nilai tukar regional.

"Yang sebenarnya menekan mata uang Asia adalah suku bunga AS, harga minyak, dan arus dana asing," ujarnya.

Prospek Rupiah dan Mata Uang Asia

Untuk rupiah, tekanan nilai tukar juga berasal dari menyempitnya selisih suku bunga Indonesia dan AS. Selain itu, kebutuhan dolar AS dari importir serta potensi keluarnya dana asing turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Insentif KLM Naik Jadi 6%, Simak Prospek Saham Bank Woori Saudara (SDRA)

Sutopo memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang Rp 17.900-Rp 18.300 per dolar AS hingga akhir tahun.

Sementara itu, yuan China diproyeksikan berada pada kisaran 6,70-6,78 per dolar AS. Won Korea Selatan diperkirakan bergerak di rentang 1.370-1.430 per dolar AS, sedangkan rupee India berada pada kisaran 96,0-97,5 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menggunakan asumsi DXY bertahan di kisaran 100-102 dan The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Sutopo menambahkan, arah mata uang Asia selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat The Fed pada Oktober, perkembangan inflasi AS, harga minyak, serta hubungan AS-China.

Selain itu, kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury juga menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati. Risiko tekanan terhadap mata uang Asia akan meningkat apabila yield obligasi pemerintah AS kembali menembus level 5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News