ECB Isyaratkan Kenaikan Suku Bunga Masih Berlanjut



KONTAN.CO.ID - FRANKFURT. Prospek tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran belum cukup untuk mengubah arah kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB). Para pejabat ECB mengisyaratkan masih terbuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan meski ketegangan geopolitik mulai mereda dan harga minyak telah turun dari level puncaknya.

Melansir Bloomberg (17/6), Presiden ECB Christine Lagarde menilai kesepakatan damai akan menjadi kabar baik bagi perekonomian global. Namun, menurutnya, dampak lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah sudah terlanjur menekan inflasi dan berpotensi bertahan lebih lama.

Anggota Dewan Gubernur ECB Peter Kazimir mengatakan, biaya energi yang tinggi kemungkinan masih akan membebani ekonomi Eropa. Proses pemulihan kapasitas produksi, perbaikan infrastruktur, hingga normalisasi jalur pelayaran diperkirakan membutuhkan waktu sehingga harga energi belum akan turun cepat.


Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi bertahan di atas target ECB sebesar 2%. Kekhawatirannya, perusahaan akan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual, sementara pekerja menuntut kenaikan upah yang pada akhirnya memperkuat tekanan inflasi.

Pasar saat ini masih memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga deposito sebesar 25 basis poin menjadi 2,5% sebelum akhir tahun. Ekonom JPMorgan Greg Fuzesi menilai peluang tercapainya perdamaian memang mengurangi sebagian tekanan terhadap ECB, tetapi belum cukup untuk menghapus kebutuhan pengetatan kebijakan moneter.

Baca Juga: ECB Sebut Eropa Berisiko Resesi Jika Harga Minyak Tembus US$150

Kepala Ekonom ECB Philip Lane juga memperingatkan, bahwa empat bulan harga energi yang tinggi akan terus memicu kenaikan harga barang, pangan, dan jasa hingga tahun depan. Meski harga minyak telah turun ke bawah US$ 80 per barel dari sekitar US$ 110 per barel saat puncak konflik, level tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Di sisi lain, sebagian ekonom mulai mendorong ECB untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah tambahan. Mereka menilai penurunan harga minyak dan meredanya risiko geopolitik dapat membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Meski demikian, Lagarde menegaskan ECB tidak akan lengah. Menurutnya, inflasi yang kembali meningkat harus segera dikendalikan karena biaya ekonomi untuk menurunkannya akan jauh lebih besar jika tekanan harga terlanjur mengakar.

Baca Juga: Survei ECB, AI Berpotensi Ciptakan Lapangan Kerja dalam Jangka Waktu Terbatas

TAG: