KONTAN.CO.ID - Eropa berpotensi mengalami resesi jika konflik Iran berlarut-larut dan harga minyak melonjak di atas US$150 per barel. “Saat ini tidak ada yang mengatakan kita akan resesi. Namun jika perang berlanjut dan harga minyak menembus US$150 per barel, tidak ada yang bisa dikesampingkan, termasuk resesi,” ujar pembuat kebijakan European Central Bank (ECB) Yannis Stournaras, dalam wawancara dengan radio Parapolitika yang dilansir
Reuters Rabu (1/4/2026). Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi dunia.
Baca Juga: Bank of England: Perang Iran Tingkatkan Risiko Stabilitas Keuangan Global Risiko Global Meningkat Bank of England (BoE) sebelumnya menyebut perang Iran sebagai “guncangan pasokan negatif yang signifikan” bagi ekonomi global, yang meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan. Menurut BoE, kombinasi pertumbuhan yang melemah, inflasi yang meningkat, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memicu tekanan bersamaan di berbagai sektor, mulai dari pasar obligasi pemerintah, kredit swasta, hingga valuasi saham teknologi AS. “Konflik ini membuat lingkungan global jauh lebih tidak pasti dan meningkatkan potensi terjadinya guncangan besar yang saling tumpang tindih,” tulis Komite Kebijakan Keuangan BoE.
Baca Juga: AT&T Investasi FirstNet, Efisiensi Dipertanyakan Lonjakan Energi dan Biaya Pinjaman Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, gangguan di Selat Hormuz jalur utama sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia telah mendorong lonjakan harga energi. Di Inggris, harga gas alam naik lebih dari 70%, sementara harga bensin meningkat sekitar 10%. Tagihan energi rumah tangga diperkirakan kembali naik mulai Juli. Kenaikan harga energi juga mendorong biaya pinjaman. Suku bunga KPR tenor dua tahun meningkat sekitar 90 basis poin dibandingkan sebelum perang, dan sekitar 21% produk KPR ditarik dari pasar.
Baca Juga: Kuwait Jadi Target Drone Iran, AS Bersiap Akhiri Operasi Militer Tekanan Pasar Keuangan dan Saham Teknologi BoE memperingatkan pasar obligasi pemerintah Inggris rentan terhadap gejolak, terutama akibat posisi besar dari
hedge fund yang berpotensi memicu aksi jual tidak teratur dan penurunan likuiditas.
Selain itu, valuasi perusahaan teknologi besar AS terutama yang berinvestasi besar di kecerdasan buatan (AI) dinilai semakin mahal dan rentan terhadap tekanan akibat kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok. Meski demikian, BoE menilai kondisi rumah tangga, bisnis, dan perbankan Inggris masih relatif kuat. Namun, jika suku bunga tetap tinggi, sekitar 58% peminjam KPR berpotensi menghadapi kenaikan cicilan hingga 2028. BoE mengingatkan bahwa kenaikan berkelanjutan pada suku bunga dan harga energi dapat kembali menekan kondisi keuangan rumah tangga dalam jangka menengah.