KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga cabai rawit merah masih menembus Rp 100.000 per kilogram (kg) di sejumlah pasar pada akhir Oktober 2026. Sementara itu, harga beras, ayam, telur, dan minyak goreng juga perlu diwaspadai di tengah risiko gangguan pasokan. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai, gangguan pasokan akibat cuaca dapat merembet ke komoditas lain yang bergantung pada kondisi iklim dan ketersediaan pasokan. Kekeringan bukan hanya mengganggu produksi cabai, tetapi juga berpotensi menekan produksi tanaman pangan seperti beras. “Ketika pasokan cabai terganggu karena cuaca, biasanya akan berpengaruh juga kepada komoditas yang memiliki karakteristik serupa. Bisa jadi kenaikan harga ini merupakan efek domino dari kenaikan bahan pokok, karena beras dianggap sebagai makanan pokok,” ujar Nailul kepada KONTAN, Senin (26/10). Baca Juga: Menkeu Suahasil Sebut belanja APBN hanya Berkontribusi 15% Terhadap PDB Menurut Nailul, pengendalian harga pangan tidak cukup hanya berfokus pada ketersediaan stok, tetapi juga harus memastikan keterjangkauan bagi masyarakat. Pemerintah perlu membenahi manajemen stok dan distribusi agar pasokan di gudang dapat diakses masyarakat sesuai kebutuhan. “Pemerintah harus mengubah konsep ketahanan pangan dari sekadar ketersediaan menjadi manajemen stok yang benar. Banyak stok beras di gudang Bulog, tetapi jika masyarakat sulit mengaksesnya, hal itu juga bisa memicu kenaikan harga pangan,” katanya. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan meminta pemerintah mewaspadai pergerakan harga cabai, ayam, telur, dan minyak goreng. Menurut dia, kemarau panjang telah memicu gagal panen cabai di sejumlah sentra produksi, sedangkan pergantian musim menuju penghujan juga berpotensi memengaruhi pasokan. “Cabai rawit merah ini cukup tinggi, bahkan sempat menyentuh angka Rp 120.000 per kilogram. Ini memang dipengaruhi iklim kemarau yang cukup panjang sehingga cabai banyak mengalami gagal panen di beberapa sentra cabai,” ujar Reynaldi kepada KONTAN, Senin (26/10/2026). Reynaldi menambahkan, pemerintah perlu memastikan sentra produksi mampu memasok daerah yang mengalami defisit. Dukungan biaya distribusi dan pengawasan rantai pasok juga diperlukan untuk menekan ongkos logistik serta mencegah penguasaan harga di tingkat hilir. “Pemerintah juga perlu memastikan subsidi distribusi yang bisa meringankan pelaku usaha. Jalur distribusi di tengah juga harus diawasi agar tidak bermain dan menguasai harga di tingkat akhir atau di pasar,” pungkasnya. Baca Juga: BGN Buka Suara soal Dana Operasional SPPG yang Tak Cair, Ini Penyebabnya
Efek Domino Harga Cabai, Beras hingga Minyak Goreng Terancam Ikut Naik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga cabai rawit merah masih menembus Rp 100.000 per kilogram (kg) di sejumlah pasar pada akhir Oktober 2026. Sementara itu, harga beras, ayam, telur, dan minyak goreng juga perlu diwaspadai di tengah risiko gangguan pasokan. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai, gangguan pasokan akibat cuaca dapat merembet ke komoditas lain yang bergantung pada kondisi iklim dan ketersediaan pasokan. Kekeringan bukan hanya mengganggu produksi cabai, tetapi juga berpotensi menekan produksi tanaman pangan seperti beras. “Ketika pasokan cabai terganggu karena cuaca, biasanya akan berpengaruh juga kepada komoditas yang memiliki karakteristik serupa. Bisa jadi kenaikan harga ini merupakan efek domino dari kenaikan bahan pokok, karena beras dianggap sebagai makanan pokok,” ujar Nailul kepada KONTAN, Senin (26/10). Baca Juga: Menkeu Suahasil Sebut belanja APBN hanya Berkontribusi 15% Terhadap PDB Menurut Nailul, pengendalian harga pangan tidak cukup hanya berfokus pada ketersediaan stok, tetapi juga harus memastikan keterjangkauan bagi masyarakat. Pemerintah perlu membenahi manajemen stok dan distribusi agar pasokan di gudang dapat diakses masyarakat sesuai kebutuhan. “Pemerintah harus mengubah konsep ketahanan pangan dari sekadar ketersediaan menjadi manajemen stok yang benar. Banyak stok beras di gudang Bulog, tetapi jika masyarakat sulit mengaksesnya, hal itu juga bisa memicu kenaikan harga pangan,” katanya. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan meminta pemerintah mewaspadai pergerakan harga cabai, ayam, telur, dan minyak goreng. Menurut dia, kemarau panjang telah memicu gagal panen cabai di sejumlah sentra produksi, sedangkan pergantian musim menuju penghujan juga berpotensi memengaruhi pasokan. “Cabai rawit merah ini cukup tinggi, bahkan sempat menyentuh angka Rp 120.000 per kilogram. Ini memang dipengaruhi iklim kemarau yang cukup panjang sehingga cabai banyak mengalami gagal panen di beberapa sentra cabai,” ujar Reynaldi kepada KONTAN, Senin (26/10/2026). Reynaldi menambahkan, pemerintah perlu memastikan sentra produksi mampu memasok daerah yang mengalami defisit. Dukungan biaya distribusi dan pengawasan rantai pasok juga diperlukan untuk menekan ongkos logistik serta mencegah penguasaan harga di tingkat hilir. “Pemerintah juga perlu memastikan subsidi distribusi yang bisa meringankan pelaku usaha. Jalur distribusi di tengah juga harus diawasi agar tidak bermain dan menguasai harga di tingkat akhir atau di pasar,” pungkasnya. Baca Juga: BGN Buka Suara soal Dana Operasional SPPG yang Tak Cair, Ini Penyebabnya
TAG: