Efek Domino Spirit Airlines: Penumpang Terlantar, Maskapai Lain Ambil Peran



KONTAN.CO.ID - Maskapai-maskapai besar dan pemerintah Amerika Serikat (AS) bergerak cepat untuk membantu penumpang dan karyawan yang terdampak setelah maskapai berbiaya rendah Spirit Airlines resmi menghentikan operasinya pada Sabtu (2/5/2026).

Penutupan mendadak maskapai yang tengah bangkrut tersebut menjadi pukulan besar bagi industri penerbangan, sekaligus disebut sebagai korban pertama sektor ini akibat dampak perang Iran.

Baca Juga: Spirit Airlines Bangkrut, Korban Pertama Industri Penerbangan akibat Perang Iran


Lonjakan harga bahan bakar jet yang mencapai dua kali lipat dalam dua bulan terakhir menjadi pemicu utama kolapsnya perusahaan.

Dampaknya, sekitar 15.000 karyawan dan kontraktor kehilangan pekerjaan. Kondisi ini juga menjadi tekanan bagi Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengusulkan paket bailout senilai US$ 500 juta untuk menyelamatkan Spirit, namun ditolak oleh kreditur.

Menteri Transportasi AS Sean Duffy menyatakan, pemerintah telah berupaya keras menjaga keberlangsungan maskapai tersebut, tetapi negosiasi dengan kreditur tidak mencapai kesepakatan.

Sejumlah kreditur besar, termasuk hedge fund Citadel milik Ken Griffin, menolak skema penyelamatan pemerintah karena dinilai dapat mengurangi nilai klaim mereka.

Baca Juga: Greg Abel Pimpin RUPS Perdana Berkshire, Investor Soroti Era Baru Tanpa Buffett

Di sisi lain, maskapai pesaing seperti United Airlines, Delta Air Lines, JetBlue Airways, dan Southwest Airlines bergerak cepat membantu penumpang yang terdampak dengan membatasi harga tiket untuk pemesanan ulang.

Penumpang cukup menunjukkan nomor konfirmasi penerbangan Spirit untuk mendapatkan fasilitas tersebut.

Selain itu, maskapai-maskapai tersebut juga menyediakan kursi gratis bagi karyawan Spirit agar dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Ini adalah bentuk solidaritas industri penerbangan,” ujar Duffy.

Baca Juga: Jerman Respons Penarikan Pasukan AS dengan Seruan Perkuat Militer Eropa

Penutupan Spirit juga memicu reaksi emosional dari para pelanggan di media sosial. Banyak pengguna mengenang pengalaman mereka menggunakan maskapai berbiaya rendah tersebut, yang selama ini dikenal menawarkan tarif murah dan membantu menekan harga tiket di pasar.

Di Bandara Internasional Orlando, papan jadwal keberangkatan dipenuhi notifikasi pembatalan penerbangan Spirit ke berbagai kota, mulai dari Nashville hingga San Juan.

Kolapsnya Spirit menyoroti dampak lanjutan dari konflik Iran terhadap industri penerbangan global.

Selain gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, blokade terhadap pelabuhan Iran turut mendorong lonjakan harga bahan bakar yang menjadi komponen utama biaya operasional maskapai.

Baca Juga: Tanpa UEA, OPEC+ Sepakati Kenaikan Produksi Minyak Juni

Sebelum krisis ini, Spirit sebenarnya sudah menghadapi tekanan keuangan dan belum mencetak laba sejak 2019.

Upaya restrukturisasi perusahaan juga terganggu akibat lonjakan harga bahan bakar yang melampaui proyeksi.

Dalam rencana bisnisnya, Spirit memperkirakan harga bahan bakar jet sekitar US$ 2,24 per galon pada 2026.

Namun, harga tersebut melonjak menjadi sekitar US$ 4,51 per galon pada akhir April, membuat perusahaan tidak mampu bertahan tanpa tambahan pendanaan.

Data Cirium menunjukkan Spirit melayani sekitar 1,7 juta penumpang domestik AS pada Februari, dengan pangsa pasar 3,9%, turun dari 5,1% tahun sebelumnya.

Baca Juga: Iran Eksekusi Dua Tersangka Mata-Mata Israel

Penutupan ini diperkirakan akan menguntungkan maskapai pesaing seperti JetBlue Airways dan Frontier Airlines, yang mulai mengambil langkah untuk mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan Spirit.

Kolapsnya Spirit Airlines menjadi sinyal kuat bahwa tekanan akibat lonjakan harga energi mulai mengguncang maskapai dengan kondisi keuangan yang rentan, di tengah ketidakpastian geopolitik global.