Efek El Nino Mengintai Margin Mayora (MYOR), Begini Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja operasional dan pergerakan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksikan tetap positif pada paruh kedua tahun ini, meskipun dihadang oleh tantangan kenaikan harga bahan baku akibat fenomena El Nino.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan memproyeksikan bahwa peluang pertumbuhan penjualan Mayora akan terakselerasi dan kembali normal pada paruh kedua tahun ini, seiring rampungnya proses pengurangan stok di tingkat distributor pada semester pertama.

Sentimen positif ini sudah mulai terlihat dari penjualan Juli yang tumbuh high single digit secara tahunan, ditopang oleh pasar domestik yang melesat double digit.


Dari sisi profitabilitas, emiten barang konsumsi ini sukses mencetak lonjakan laba bersih 46,5% year on year (YoY) menjadi Rp 1,71 triliun pada semester I 2026.

Baca Juga: Sektor Pulp & Paper Masih Positif, Namun Diprediksi Mulai Selektif pada 2027

Pertumbuhan cemerlang ini turut terbantu oleh penurunan harga bahan baku seperti kopi dan kakao yang sempat mengerek margin kotor perusahaan ke level 25,7%.

Senada dengan hal tersebut, Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, perbaikan profitabilitas perseroan terbukti didorong oleh bisnis operasionalnya secara riil, tercermin dari laba inti di luar keuntungan kurs yang tumbuh 35,2% YoY.

Selain itu, porsi ekspor yang besar turut memberikan kelonggaran berupa keuntungan selisih kurs saat dolar Amerika Serikat (AS) menguat, yang sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang biaya bahan baku impor.

"Pemulihan harga saham akan bergantung pada konsistensi pertumbuhan volume dan kemampuan mempertahankan margin, karena keuntungan kurs belum tentu berulang," ungkap Harry kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Kendati kinerja semester pertama tergolong kuat, prospek MYOR hingga akhir 2026 tidak lepas dari sejumlah tantangan berat. Risiko fenomena iklim El Nino memicu volatilitas dan lonjakan kembali harga komoditas utama perseroan seperti kopi, kakao, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), hingga gula di pasar global.

 
MYOR Chart by TradingView

"Beberapa harga bahan baku sudah mulai rebound secara kuartalan, sehingga gross margin semester II berpotensi kembali normal ke sekitar 23% dari 25,7% pada semester I," kata Ekky kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Di samping itu, pelemahan rupiah dan naiknya harga minyak kian membayangi biaya kemasan serta logistik.

Ruang perseroan untuk meneruskan beban biaya kepada konsumen juga semakin terbatas di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih serta tingginya kebutuhan perseroan dalam meningkatkan belanja promosi.

Merespons dinamika fundamental tersebut, kedua analis sepakat bahwa saham MYOR mulai memancarkan daya tarik.

Ekky menyarankan strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness pada area harga Rp 1.350–Rp 1.500, dengan target harga fundamental di kisaran Rp 2.000 hingga berlanjut ke Rp 2.400 - Rp 2.500.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.917 Per Dolar AS Hari Ini (5/10), Asia Bervariasi

Sementara itu, Harry juga merekomendasikan akumulasi bertahap bagi investor berhorison menengah. Sebagai acuan tambahan, Harry mencatat bahwa konsensus pasar menunjuk rekomendasi strong buy dengan rata-rata target harga 12 bulan berada di level Rp 2.493 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News