Efek Perang Iran, AS Nyaris Jadi Net Exporter Minyak Mentah



KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Amerika Serikat (AS) hampir menjadi pengekspor minyak mentah bersih di pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua. Ini setelah pengiriman minyak AS melonjak mendekati rekor tertinggi untuk memenuhi permintaan dari pembeli Asia dan Eropa yang berebut untuk mengganti pasokan Timur Tengah yang terpotong akibat perang Iran.

Perang AS dan Israel dengan Iran memicu gangguan terbesar yang pernah terjadi di pasar energi global karena ancaman Iran terhadap pelayaran menghentikan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia dari transit melalui jalur air Selat Hormuz.

Kilang-kilang di Asia dan Eropa yang bergantung pada pasokan tersebut telah membeli kargo alternatif dari mana pun mereka bisa, yang secara tajam meningkatkan permintaan minyak dari AS, produsen terbesar di dunia.


Namun, analis dan trader mengatakan, AS dengan cepat mendekati kapasitas ekspornya.

Baca Juga: Ketergantungan Militer AS pada Starlink Disorot Usai Gangguan Drone Angkatan Laut

Impor bersih minyak mentah, atau selisih antara impor dan ekspor, menyempit menjadi 66.000 barel per hari di pekan lalu, terendah dalam catatan data mingguan sejak tahun 2001, menurut data pemerintah AS yang dirilis pada Rabu (15/4/2026). Sementara ekspor minyak AS naik menjadi 5,2 juta barel per hari, tertinggi dalam tujuh bulan.

Secara tahunan, seperti dilansir Reuters, AS terakhir kali menjadi pengekspor bersih minyak mentah pada tahun 1943, menurut data tersebut.

Meningkatnya ekspor minyak mentah AS merupakan bukti bahwa pembeli di Cekungan Atlantik dan Asia semakin mencari pasokan yang tersedia, dengan perbedaan harga minyak regional yang menutupi biaya pengiriman, kata wakil presiden pasar minyak Rystad, Janiv Shah.

Negara-negara seperti Yunani telah membeli minyak mentah AS untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut layanan pelacakan kapal Kpler, sekitar 2,4 juta barel per hari (bpd), atau sekitar 47% dari ekspor AS pekan lalu, berlayar menuju Eropa. Sekitar 1,49 juta bpd, atau sekitar 37%, menuju Asia, naik dari 30% setahun yang lalu.

Pembeli utama termasuk Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan.

Sebuah kapal yang membawa 500.000 barel minyak mentah memberi sinyal bahwa kapal tersebut sedang dalam perjalanan ke Turki, yang akan menandai ekspor AS pertama ke negara itu setidaknya dalam setahun, menurut data Kpler.

Sementara itu, impor minyak ke AS turun lebih dari 1 juta bpd menjadi 5,3 juta bpd pekan lalu. Amerika Serikat masih mengimpor banyak minyak mentah karena kilang-kilangnya dirancang untuk mengolah jenis minyak mentah yang lebih berat dan lebih asam daripada minyak mentah ringan dan manis yang diproduksinya.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Ragukan Perundingan Damai AS-Iran Bisa Akhiri Konflik

Gangguan pasokan dari Timur Tengah telah meningkatkan premi minyak mentah Brent dibandingkan dengan minyak mentah West Texas Intermediate AS hingga mencapai $20,69 per barel bulan lalu, mengurangi minat pembeli AS terhadap impor, sementara membuat minyak mentah AS menarik bagi kilang-kilang di Eropa dan Asia.

Harga kargo minyak mentah fisik untuk pengiriman segera ke Eropa mencapai rekor tertinggi mendekati $150 per barel pada hari Senin, dan harga untuk Afrika mencapai puncak baru, menurut data LSEG dan para pedagang.

Ekspor Mendekati Kapasitas

Ekspor minyak AS kemungkinan akan mencapai sekitar 5,2 juta barel per hari (bpd) untuk bulan April, kata Matt Smith, seorang analis di Kpler. Ia menambahkan ekspor terus mendekati batas kapasitas setiap bulannya.

AS dapat mengekspor hingga 6 juta bpd, kata para pedagang dan analis, dengan alasan keterbatasan kapasitas pipa dan ketersediaan kapal. Ekspor minyak AS mencapai rekor tertinggi 5,6 juta bpd pada tahun 2023, menurut data pemerintah.

"Pasar sudah menguji batas ekspor dengan 5,2 juta bpd yang diekspor minggu lalu. Setiap barel tambahan dari sini membutuhkan biaya pengiriman dan logistik yang lebih tinggi daripada barel sebelumnya," kata Bekzod Zukhritdinov, seorang pedagang minyak yang berbasis di Dubai.

Baca Juga: Iran Pertimbangkan Buka Jalur Aman di Selat Hormuz untuk Kapal Internasional

Pelepasan minyak mentah medium sour dari cadangan minyak strategis dapat mendorong lebih banyak minyak mentah ringan dan rendah sulfur AS untuk diekspor, kata Shah dari Rystad. Namun, kekurangan kapal tanker dan tarif pengiriman yang lebih tinggi dapat merugikan permintaan ekspor tersebut.

Sekitar 80 kapal tanker super kosong sedang menuju Teluk Meksiko pada hari Rabu, kemungkinan untuk mengambil minyak mentah selama bulan April dan Mei, kata Rohit Rathod, analis senior di Vortexa.