KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings (Fitch) kembali menegaskan peringkat atau
rating BBB dengan
outlook stabil untuk surat utang Indonesia. Artinya, Indonesia masih layak investasi, meskipun fluktuasi perekonomian global tengah terjadi. Meski demikian, hal tersebut tidak tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemarin, indeks saham justru turun 1,04% ke level 5.905,30. Alih-alih menjadi sentimen positif, investor asing justru berjualan. Mengutip RTI, posisi beli bersih atawa
net sell investor asing pada penutupan perdagangan kemarin mencapai Rp 428,48 miliar.
Harga saham-saham dengan kapitalisasi besar (
big cap), yang kerap jadi buruan asing, mengalami penurunan. Saham BBRI menjadi saham penekan indeks terbesar. Saham ini kemarin turun 6,61% menjadi Rp 3.110 per saham dan mengurangi 6,5 poin IHSG. BBRI juga mencatatkan
net sell asing terbesar kemarin. Total
net sell asing di saham ini sepanjang perdagangan kemarin Rp 278,2 miliar. Di tempat kedua ada saham TLKM yang mengurangi 6,1 poin indeks. Sedang tempat ketiga ada saham BBNI yang mengurangi 5,7 poin. Meski begitu,
net sell asing di TLKM cuma Rp 18,8 miliar. BBNI malah mencetak
net buy sebesar Rp 24,5 miliar.
Managing Director and Head of Equity Capital Market Samuel Internasional Harry Su menyebut,
rating Fitch tersebut hanya penegasan kembali, bukan sebuah
upgrade. Artinya, kondisinya masih sama, tidak ada perbaikan. "Jadi, kenapa investor mesti masuk?" kata dia kepada KONTAN, Selasa (4/9). Setali tiga uang, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, IHSG yang bergerak di atas level 6.000 sudah terlampau tinggi. Bukan hanya sisi level yang tinggi, namun valuasi indeks saham juga relatif sudah mahal. Mengutip
Bloomberg,
price earning ratio (PER) IHSG saat ini mencapai 19,82 kali. Bandingkan dengan indeks negara tetangga, Straits Times Index yang masih 11,33 kali. Dengan posisi itu, butuh sentimen yang lebih dari sekadar mempertahankan
rating. "Apalagi, perhatian pasar juga masih fokus pada depresiasi rupiah," ujar Hans. Depresiasi rupiah Pelemahan rupiah masih terus berlanjut. Kemarin, kurs rupiah bahkan sempat menembus level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Logikanya, depresiasi rupiah seharusnya mendorong investor asing kembali masuk. Sebab, gambarannya dengan uang US$ 1 dollar saat ini sudah bisa membeli lebih banyak saham ketimbang rupiah masih di kisaran Rp 14.000 per dollar AS. "Tapi, itu hanya terjadi jika posisinya asing belum masuk. Sekarang, sebagian sudah disini, yang ada mereka kembali keluar jika ada pelemahan lagi," jelas Hans.
Jika kondisi terus seperti ini, pergerakan saham
big cap yang menjadi
mover IHSG bakal relatif lesu hingga akhir tahun. Tak menutup kemungkinan, IHSG menuju level 5.700 sebelum akhir tahun. Meski begitu, analis menilai investor bisa memanfaatkan momen ini untuk melakukan akumulasi saham dengan fundamental baik. BBRI salah satu yang menarik dilirik. "Tren negatif pertumbuhan pendapatan
single digit BBRI sudah berakhir," tulis analis UOB Kay Hian Alexander Maragonis dalam riset 4 September. Penyaluran kredit BBRI di Juli 2018 tumbuh 15% secara tahunan. Pencapaian ini juga membuat manajemen bank pelat merah tersebut merevisi target kreditnya hingga akhir tahun dari 12% menjadi 14%. Ke depan, harga saham BBRI berpotensi kembali naik. Oleh sebab itu, Alexander merekomendasikan
buy BBRI dengan target harga Rp 3.500 per saham. Kemarin, saham ini turun 1,89% ke level Rp 3.110 per saham.