KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kinerja penerimaan pajak pada awal tahun 2026 masih ditopang faktor musiman yang kuat, namun berpotensi melambat pada kuartal berikutnya seiring arah kebijakan fiskal yang lebih ketat. Yusuf menjelaskan bahwa pada kuartal I, momentum Ramadan dan Idulfitri hampir selalu mendorong konsumsi rumah tangga. Peningkatan aktivitas ekonomi ini turut mengerek penerimaan pajak, terutama dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan sektor perdagangan. "Dalam konteks ini, penerimaan pada awal tahun masih relatif aman karena ditopang faktor musiman yang cukup kuat," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (24/3).
Efisiensi Anggaran Berisiko Tahan Pertumbuhan Pajak pada Kuartal II
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kinerja penerimaan pajak pada awal tahun 2026 masih ditopang faktor musiman yang kuat, namun berpotensi melambat pada kuartal berikutnya seiring arah kebijakan fiskal yang lebih ketat. Yusuf menjelaskan bahwa pada kuartal I, momentum Ramadan dan Idulfitri hampir selalu mendorong konsumsi rumah tangga. Peningkatan aktivitas ekonomi ini turut mengerek penerimaan pajak, terutama dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan sektor perdagangan. "Dalam konteks ini, penerimaan pada awal tahun masih relatif aman karena ditopang faktor musiman yang cukup kuat," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Selasa (24/3).